KONSEP IBADAH

“Adalah kamu (kaum muslimin) sebaik-baiknya ummat yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran dan beriman kepada Allah.”
(QS. 3:110)

***

Max Weber dalam bukunya “The Protestant Ethic And Spirit Of Capitalism” (Etika Protestan dan Roh Kapitalisme) mengemukakan tentang terdapatnya kaitan antara afiliasi keagamaan dan stratifikasi sosial dengan mendasarkan pada penjelasan akan pengaruh doktrin teologi pada berbagai sekte keagamaan terhadap etos kerja para pemeluknya.

Beberapa contoh membenarkan teori Max Weber ini. Di antaranya hasil penelitian Yamamoto Shichihei terhadap pendeta Budha Zen Suzuki Shashan (1879-1955). Sebagaimana diketahui, Jepang merupakan negara Timur yang mampu menandingi Barat dalam kemajuan industri dan perekonomian sehingga mampu menguasai dunia. Ternyata kemajuan Jepang sangatlah unik karena kesuksesan yang diraihnya tidak semata-mata mengikuti dan mengambil unsur-unsur ilmu pengetahuan dan teknologi Barat, melainkan dengan memelihara dan mendekatkan diri pada nilai budaya tradisionalnya yaitu sistem kepercayaan Budhisme Zen.

Ajaran Budhisme Zen ini menekankan bahwa dengan niat yang benar, maka setiap gerak kerja adalah amal budhis sehingga seluruh penganutnya memiliki etos kerja yang bersumber pada nilai-nilai agama, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam bisnis.

Islam adalah agama wahyu yang diyakini dan dianut kebanyakan ummat manusia dari berbagai etnis dan suku bangsa. Perbedaan warna kulit dan bahasa tidak menjadi masalah karena semuanya merujuk pada satu azas yang telah disepakati yaitu Al-Quran sebagai satu-satunya kitab suci dan dijelaskan dengan Sunnah Nabawiah sebagai interpretasinya.

Kedua konsep ini menjadi sumber hukum dan pedoman hidup setiap muslim baik dalam kehidupan pribadi, keluarga maupun masyarakat dan bernegara. Inilah yang dimaksud dengan Muslim Kaffah atau muslim paripurna yang selalu mengaplikasikan kedua azas tadi dalam setiap aktifitas hidupnya.

Al-Quran dan Sunnah telah terbukti sebagai sumber ajaran yang menganjurkan kerja keras dan optimisme dalam menjalani kehidupan dunia. Firman Allah;
“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…”

Petikan ayat ini secara tegas mengajarkan optimisme walaupun tidak dipungkiri adanya konsep taqdir dalam hal ini. Namun jika pemahaman taqdir diletakkan pada makna yang sesungguhnya, maka akan sampai pada kesimpulan bahwa Islam menghargai kerja keras dan kesungguhan niat dalam berikhtiar, serta Islam mencela ummatnya yang hanya berpangku tangan menanti nasib atau hanya bangga dengan setumpuk konsep tanpa dibuktikan dengan aplikasinya.

Dalam sebuah Hadits dijelaskan; “Allah tidak akan menerima ucapan seseorang melainkan diiringi dengan amalnya, serta Allah tidak akan menerima ucapan dan amal melainkan dengan niat, serta Allah tidak akan menerima ucapan, amal dan niat melain-kan harus sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah.”

Ummat Islam sesungguhnya punya potensi besar se-perti yang dicapai oleh bangsa Jepang sekarang yang juga berangkat dari sistem kepercayaannya. Al-Quran menyebut kaum muslimin sebagai ummatan wasatha, khairul ummah, golongan yang terbaik seperti dijelaskan dalam firman Allah: “Adalah kamu (kaum muslimin) sebaik-baiknya ummat yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran dan ber-iman kepada Allah.”

Masalahnya sekarang ialah, sejauh mana ummat Islam memahami konsep-konsep ini sehingga bisa membawa pada kemajuan dan bisa meningkatkan etos kerja yang kini pasang surut. Jika kita memperhatian ayat 11 surat Ar-Ra’du di atas maka sesungguhnya ajaran Islam tidak statis, bahkan membantah paham fatalism (jabariah) dalam masalah predetinations (taqdir). Kemudian dipertegas dengan beberapa Hadits yang mengisyaratkan bahwa Islam meng-hargai ummatnya yang optimis menjalani hidup di dunia.

Dengan beberapa penjelasan ini, ada beberapa hikmah yang harus kita pahami, bahwa seharusnya setiap muslim memiliki etos kerja yang tinggi dan sikap optimis. Namun mengapa kondisi sekarang justeru sebaliknya ?
Ada beberapa hal yang menjadi penghambat kemajuan ummat Islam dewasa ini. Salah satu di antaranya ialah masih memandang saktarian dan sempit makna ibadah serta ada salah paham dalam menjalankan konsep ajaran Islam.

Golongan tradisional sebagian menganggap ibadah itu hanya shalat, dzikir di sudut masjid dan berdo’a belaka. Ibadah dibatasi oleh ruang dan waktu, dan di luar itu sama sekali tidak ada pengaruhnya dalam kehidupan pribadi maupun masyarakat. Padahal antara keduanya memiliki keterkaitan dan merupakan satu kesatuan yaitu ibadah, sebagaimana firman Allah; “Tidak ada kebaikan pada bisikan mereka kecuali bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat kebaikan atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridlaan Allah maka kelak Kami akan memberi kepadanya pahala yang besar.”

Dalam hal ini, seluruh aktifitas manusia bisa bernilai ibadah dan disediakan pahala yang besar apabila diiringi niat mencari keridlaan Allah. Karenanya niat atau motivasi merupakan faktor yang dapat membedakan satu perbuatan bernilai ibadah atau tidak, bukan masalah jenis perbuatannya. Sabda Rasulullah SAW; “Sesungguhnya sah atau tidak suatu amal itu tergantung pada niat. Bagi setiap orang akan menerima balasan sesuai dengan apa yang telah diniatkannya. Maka barangsiapa berhijrah dengan niat semata-mata karena Allah dan Rasul-Nya, pastilah diterima di sisi Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena keuntungan duniawi, maka dia akan mendapatkannya. Serta barangsiapa yang berhijrah karena wanita, diapun akan mendapatkannya. Adalah hij-rah itu sesuai dengan niatnya.”

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah mengemukakan konsep ibadah sebagai penafsiran dari QS. Adz-Dzariyat:56 yaitu segala bentuk aktifitas manusia yang dicintai Allah dan yang diridlai-Nya baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan lahir dan batin. Definisi ini bersifat universal sehingga memungkinkan kita memasukkan berbagai macam aktifitas manusia setiap saat.

Lebih rinci lagi definisi yang dikemukakan Ibnul Qayim seorang tokoh salaf, bahwa ibadah memiliki lima belas kaidah. Dengan penjelasan antara lain; Ibadah meliputi tiga aktifitas, yaitu (1) hati, (2) lisan dan (3) anggota badan. Setiap aktifitas ini masing-masing memiliki lima hukum yaitu; (1) Wajib, (2) Sunnah, (3) Mubah, (4) Makruh dan (5) Haram. Contohnya, lisan dikenai oleh wajib menyampaikan yang haq dan dikenai haram mengucapkan dusta, dan seterusnya.
Ibnul Qayim lebih menekankan batasan ibadah yang aplikatif. Semua definisi ibadah merujuk pada satu pemahaman bahwa seluruh aspek kehidupan manusia tidak boleh kosong dari ruh ibadah sebagaimana firman Allah; “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku.”

Pokok ajaran ibadah terkandung dalam tiga disiplin yang satu sama lain tidak bisa dipisahkan yaitu Islam, Iman dan Ihsan. Unsur Islam yang lima ibarat tiang pe-nyangga bangunan ibadah. Unsur iman perlambang segi enam pondasi yang harus tersusun kokoh. Dan unsur ihsan bagaikan atap yang membuat keteduhan ruangan ibadah. Dengan memahami konsep ibadah secara benar, akan terbentuk pribadi muslim paripurna yang berprinsip Hayatuna Kulluha ‘Ibadah (Seluruh hidup kami hanya ibadah semata) sehingga dengan begitu akan menumbuhkan etos kerja yang tinggi dengan motifasi (niat) mencari keridlaan Allah SWT dalam setiap aktifitas duniawi maupun ukhrawi.

Allah berfirman; “Dan carilah apa yang telah Aku anugerahkan kepadamu dari tempat Akhirat, janganlah kamu melupakan bagian duniawi. Berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang membuat kerusakan.”

About these ads

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: