Syirik

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selainnya, bagi orang yang ia
kehendaki. Barangsiapa berbuat syirik pada Allah, maka sesungguhnya ia telah bebuat dosa besar.”
(QS. An-Nisa: 48)

***
Begitu mendesaknya masalah syirik dan pirantinya disoroti dan kembali dijadikan tema pokok kajian da’wah Islamiah, agar ummat Islam tidak terkecoh dan semakin waspada terhadap parasit aqidah yang selalu mengancam kehidupan kita.
Masalah kemusyrikan telah menjadi tantangan agama tauhid sejak para Nabi sebelum Muhammad SAW, sehingga semua Nabi menyerukan pemurnian aqidah dari syirik ini. Nabi Ibrahim AS pun seorang Nabi yang menentang kemusyrikan. Firman Allah SWT.:
“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dia, ketika mereka berkata kepada kaumnya; “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Al-lah.”
Demikian juga yang dilakukan oleh Rasulullah SAW beserta para shahabatnya. Beliau mewanti-wanti ummatnya dari masalah syirik sekecil apapun, sehingga secara detail dijelaskan. sebuah Hadits mengungkapkan betapa syirik selalu mengintai kita setiap saat, sabda Rasulullah SAW: “Syirik menyebar di kalangan ummat lebih tersembunyi dari pada semut kecil yang melata di atas batu hitam, sedang penghapusnya ialah: “Allahumma Innii A’udzubika an Usyrika bika syai-an wa ana a’lamu, Astaghfiruka minad dzanbil ladzi laa a’lamu.” (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari terjerumusnya aku pada menyekutukan-Mu, sedangkan aku mengetahui, aku mohon ampunan-Mu dari dosa yang tidak aku keta-hui.”
Pada ayat di atas dengan tegas Allah memurkai syirik kepada-Nya dan tidak akan pernah mengampuni orang yang berlaku syirik selama ia tidak meninggalkan perbuatannya atau bertobat sebelum ajalnya datang, sehingga menghukuminya sebagai dosa yang paling besar.

Syirik dan Jenisnya

“Asy-Syirku” berasal dari “Asyraka – Yusyriku” yang berarti membuat persekutuan. Dalam istilah fiqh dikenal sistem Musyarakah yaitu mengadakan akad bersekutu dalam usaha dan mu’amalah.
Beberapa kitab tauhid mendefinisikan Asy-syirku billah dengan menyekutukan atau membuat tandingan terhadap Allah SWT. Secara tersirat QS. Al-Ikhlas: 1-4 mengisyaratkan makna tauhid sebagai lawan dari syirik. Firman Allah: “Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah tempat bergantung. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan (berbapak). Tidak ada satupun yang menyamainya.”
Ditinjau dari sebab turunnya (asbabunnuzul) surat ini berkenaan dengan kaum musyrikin yang menentang ajaran Tauhid yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Sebagaimana dikutip oleh Al-Maraghi dalam tafsirnya: Ad-Dhahhak meriwayatkan bahwa kaum musyrik pernah mengutus Amir Ibnu Thufail menghadap Rasulullah SAW untuk menyampaikan ancaman mereka terhadap ajaran tauhid dan tawaran-tawaran halus agar meninggalkan da’wahnya. Namun dengan tegas Rasulullah SAW menjawab: “Aku adalah utusan Allah untuk men-gajak kalian meninggalkan penyembahan berhala dan supaya menyembah Allah saja!” Kemudian Amir mengatakan: “Jelaskanlah Tuhan yang kamu sembah ? apakah terbuat dari emas atau perak ?.” Maka turunlah surat Al-Ikhlas di atas.
Jamaludin Al-Qasimi dalam kitab tafsirnya mengutip pendapat Abdul Baqa’ tentang enam jenis syirik ketika menafsirkan QS. An-Nisa: 48 di atas antara lain:

Pertama; Syirik Istiqlal, yaitu meyakini adanya tuhan yang berkedudukan sama sebagai tandingan Allah SWT. masing-masing memiliki kekuatan sendiri yang sebanding. Syirik Istiqlal ini dianut oleh orang Majusi dengan ajaran bahwa api mempunyai maha kekuatan.
Kedua; Syirik Tab’idl, yaitu berkeyakinan bahwa tuhan terdiri dari beberapa unsur yang tidak bisa dipisahkan dalam sifat maupun dzatnya. Misalnya ajaran trinitas, trimurti dan sebagainya.
Ketiga; Syirik Taqrib, ialah menjadikan sesuatu sebagai sembahan dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah SWT atau sebagai perantara-Nya, seperti keyakinan kaum musyrikin jahiliah penyembah berhala. Firman Allah: “Ingatlah hanya kepunyaan Allah lah agama yang bersih dari (syirik) dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah berkata kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.”
Keempat; Syirik Taqlid, yaitu melakukan upacara atau penyembahan tertentu karena mengikuti atau melestarikan nenek moyang walaupun bertentangan dengan akal dan syara’. Seperti upacara yang dilakukan oleh kaum watsaniah.
Kelima; Syirik Asbab, ialah meyakini adanya penyebab selain Allah dan menyandarkan segala kejadian kepada selain Allah. Misalnya masih ada keyakinan bahwa sapi merupakan binatang suci pembawa (penye-bab) berkah.
Keenam; Syirik Aghrad, yaitu apabila melakukan suatu perbuatan mengharap maksud selain dari Allah SWT atau disebut syirik niat. Seperti melaksanakan puasa tertentu de- ngan niat untuk mendapat jodoh dan lain-lain.
Kemudian secara garis besar, Al-Qasimi mengklasifikasikan bentuk syirik menjadi:
1. Syirik Fil af’al; ialah bentuk syirik yang merupakan perbuatan anggota badan seperti membungkukkan badan ketika menyembah berhala dan sebagainya.
2. Syirik Fil Aqwal; ialah menyekutukan Allah dengan perkataan atau ucapan baik secara langsung maupun tidak langsung. Misalnya bersumpah dengan selain nama Allah dan sebagainya.
3. Syirik Fil Iradah wan Niah; berupa syirik dalam hati yang seringkali tidak terasa kita melakukannya, misalnya riya (ingin diperhatikan manusia), sum’ah (ingin didengar orang) atau berbentuk keyakinan terhadap kekuatan selain Allah.
Beberapa contoh di atas hanyalah contoh kecil dari sekian banyak syirik yang masih dianut dan dilakukan masyarakat kita. Terkadang secara tidak disadari, masih ada beberapa unsur syirik yang masih melekat pada kita.
Demikianlah bahaya dan ancaman syirik yang bertebaran pada masyarakat kita dan meracuni aqidah ummat Islam yang masih awam dalam ketauhidannya. Padahal kemurnian tauhid serta keimanan merupakan jaminan utama sebuah negara aman sentosa, sebagaimana firman Allah SWT: “Jika sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi bila mereka mendustakan (ayat-ayat) Kami, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”
Sudah saatnya kita mengambil langkah penyelamatan aqidah kita dari parasit-parasit syirik yang menjalar.

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: