TEMA KULIAH DUHA RAMADHAN 2015

30 Mei 2015

TEMA KULDUH RAMADHAN AHAD KE 1 :
“BERBAGAI DISTORSI SEJARAH PERJUANGAN UMAT ISLAM MENUJU KEMERDEKAAN”.

TEMA KULDUH RAMADHAN AHAD KE 2 :
“MASA DEPAN PERJUANGAN UMAT MENUJU ISLAM RAHMATAN LIL ‘ALAMIN “. (ANALISIS BERBAGAI GERAKAN ISLAM PEMBAHARU DI NEGARA-NEGARA ISLAM SERTA DI INDONESIA)

Don’t write if you don’t read

30 Mei 2015

Assalamu’alaikum…Mhn maaf hanya ingin berbagi pengalaman, tdk bermaksud utk menggurui.

“Don’t write if you don’t read”.
Oleh: Abu Faqih

Itulah kata-kata bijak yg sering saya sampaikan kepada anak2 di depan kelas di Baiturrahman pd pelajaran Bhs Indonesia.

Ikhwan fillah…banyak orang yg merasa sulit untuk memulai sebuah tulisan krn tidak tahu apa yg akan kita tulis. Menulis itu membutuhkan keberanian, krn yg sering muncul dlm pikiran kita ,takut salah, takut gak bisa, takut jelek, dls. Itulah tantangan pertama yg sering muncul ketika kita akan membuat sebuah tulisan.

Membaca adalah sebuah langkah awal utk membangun sebuah gagasan thd tema yg akan kita tulis.

Makanya surat yg pertama kali Alloh turunkan kpd Nabi kita adalah ‘iqro'(baca). Ini membuktikan kpd kita semua bahwa membaca merupakan salah satu perintah yg wajib kita kerjakan. Apalagi kalau kita akan membuat sebuah tulisan.

Langkah kedua (alladzii ‘allama bil qolam = yg mengajarkan manusia dg pena) setelah kita banyak membaca tentang hal-hal yg akan memberikan inspirasi bagi kita, maka mulailah menulis.
Tulislah apa yg ada dlm benak kita walaupun kita msh ragu dg kalimat-kalimat yg kita buat, teruslah menulis karena ide-ide itu akan mengalir dg sendirinya.

Langkah ketiga barulah menyunting(editing) terhadap tulisan yg kita buat. Jgn ragu utk menambahkan atau bahkan menghapus sesuatu yg sudah kita tulis, agar tulisan kita semakin sempurna.

Alhamdulillah dengan tips sederhana ini , saya menjadi juara pertama lomba karya tulis tingkat guru walaupun masih se-Baiturrahman.
Dengan tema ‘Catatan Harian Seorang Guru’.
Saya beri judul “Aku Bukan Seorang Guru”.(pasti penasaran kan.?)

Pramoedya Ananta Toer. Beliau berkata, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian“. Maka menulislah kawan, buatlah sejarah Anda dengan tangan Anda sendiri.

Ikhwan fillah…
Marilah kita mencoba berdakwah melalui tulisan karena dakwah melalui media ini tidak akan hilang di telan zaman.
Semoga menginspirasi…. ***

ADA SURGA DI KAMPUNG BOJONG

30 Mei 2015

ADA SURGA DI KAMPUNG BOJONG
OLEH : ABU FAQIH.

Surga adalah sebuah tempat yg akan sangat dirindukan oleh orang-orang beriman. Keindahan surga tak terbersit dalam hati dan tak kan pernah bisa dibayangkan oleh imajinasi manusia.
Surga adalah sebuah pemberian dari ALLOH SWT. Kepada orang-orang yg beriman karena kasih sayang-NYA,  bukan atas amal seorang hamba. Namun tak bisa dipungkiri kasih sayang ALLOH akan hadir manakala kita rajin dan gemar melakukan amal sholeh.

Ada sebuah cerita tentang seorang ahli ibadah yg hidup di sebuah pulau yg dikelilingi oleh lautan luas. Setiap hari ia beribadah kpd Alloh selama 500 tahun tanpa pernah bermaksiat kepada-NYA. Setiap pagi ia turun ke sebuah lembah utk mencari buah2an yg telah Alloh sediakan baginya utk makanan sehari-hari, dan mengambil air minum yg terus mengalir dari sumber mata air yg jernih.
Setelah selesai memenuhi kebutuhan jasmaninya, lalu ia pun naik lg ke atas bukit utk beribadah kpd ALLOH.

Begitulah setiap harinya si abid menghabiskan waktu utk terus beribadah tanpa mengenal rasa lelah utk mendapatkan amal-amal terbaiknya di akhirat nanti.
Sampai suatu waktu ketika ia merasakan akan berakhir hidupnya, lalu ia berdoa kpd ALLOH , ” Yaa ALLOH matikanlah aku ketika sedang bersujud kepada-MU, dan bangkitkanlah nanti ketika aku sedang bersujud kepada-MU pula, dan masukkanlah aku ke dalam surga karena amal-amal ku”.

Singkat cerita ketika ALLOH mengambil nyawa nya, maka si abid pun sedang bersujud. Demikian pula ketika ALLOH membangkitkan si abid di yaumil hisab, masih dalam posisi bersujud.
Lalu apa yg didapatkan oleh si abid yg sudah beribadah selama 500 tahun lamanya, akhirnya ALLOH memasukkannya ke dalam neraka.
Lalu si abid pun protes kpd ALLOH krn telah memasukannya ke dalam neraka, ” Ya ALLOH mengapa Engkau memasukkanku ke dalam neraka, padahal aku sudah beribadah selama 500 tahun tanpa bermaksiat kepada Mu ?”.
Lalu ALLOH pun menjawab, ” Tidakkah kamu sadari setiap pagi AKU sediakan untukmu makanan dari pohon yg tdk pernah  berhenti berbuah, dan AKU sediakan air tawar yg jernih padahal di sekeliling mu lautan yg airnya rasanya asin.
Lalu ditimbang pula nikmat mata nya yg sudah bisa melihat selama ia hidup, maka ALLOH pun berkata,”Sungguh amal ibadahmu selama 500 thn hanya sebanding dg nikmat mata bisa melihat”.
Lalu si abid pun memohon kpd ALLOH,” Yaa ALLOH masukkanlah aku ke surga karena Rahmat-MU”.
Akhirnya si abid pun di masukkan ke dalam surga.

Ikhwan fillah…
Tak kan ada yg dapat memasukkan kita ke surga karena amal-amal kita. Sehebat apapun amal seorang hamba tak kan mampu ditukar dg keagungan surga.
Kata kuncinya adalah ‘Rahmat Alloh’ yg bisa menghantarkan seorang mukmin masuk ke dalam surga-NYA. Sampai dia mendapatkan ucapan salam penghormatan dari para malaikat. “Salaamun ‘alaikum bimaa shobartum”.

Diceritakan dari ‘Aisyah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Teruslah berjuang dan berusaha mendekat kepada Allah. Bergembiralah sebab amal seseorang tidak dapat memasukkannya ke dalam surga. Para shahabat bertanya, “Apakah engkau juga wahai Rasulallah?” Rasulullah saw. menjawab, “Ya, aku juga, tetapi Allah swt. menaungi aku dengan ampunan dan rahmat.” (HR Bukhari)

Ikhwan fillah…
Bergeraklah…
Carilah Rahmat Alloh melalui karya(amalan) yg dpt menggetarkan Arasy-Nya.
Bergeraklah…
Karena agama ini tak akan pernah besar jika mulut kita selalu terkunci, tak menyerukan kata ‘ Qul haadihi sabilii ad’uu ilallooh.
Bergeraklah…
Karena kita tak akan pernah menjadi umat terbaik ketika raga tak berhasrat untuk ‘Ta’muruuna bil ma’ruf wa tanhauna ‘anil munkar.
Bergeraklah…
Dan teruslah bergerak walaupun kamu merasa lelah, sampai kelelahan itu lelah mengikutimu.
Bergeraklah…
Dan teruslah bergerak, walaupun kamu merasa jenuh.
Sampai kejenuhan itu, jenuh mengikutimu.
Karena sesungguhnya Alloh dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat karya yg telah kita perbuat (9:105).

Ikhwan fillah…
Di kampung Bojong… ada karya… yg dapat mendatangkan Rahmat Alloh.

Semoga …kita dapat berkarya (amal) yang dapat mendatangkan Rahmat-Nya. Aamiin ***

CINTA MEMANG BUTA TAPI CINTA  TAHU MANA ANGKOT MANA AVANZA

30 Mei 2015

“CINTA MEMANG BUTA TAPI CINTA  TAHU MANA ANGKOT MANA AVANZA”
Oleh :  Abu Faqih Al-Topani

Kata-kata yg cukup menggelitik, tertulis di sebuah angkot jurusan soreang – kebon kalapa.
Namun seringkali kita dapati kata-kata semacam itu tertulis di bak belakang mobil truk. Entah hanya sebagai guyonan atau mungkin juga mencerminkan akhlak para pengemudi truk tersebut. Yang jelas seringkali saya tertawa sendiri ketika berpapasan dg kendaraan yg tertulis slogan-slogan ‘nakal’ seperti itu.

Berbicara tentang cinta memang tdk akan pernah ada habisnya, karena
Cinta itu tetap akan ada sepanjang manusia hidup.
Ada cinta yg tumbuh dari jiwanya yg fitri, maka lahirlah kebaikan. Dan ada cinta yg tumbuh dari syahwati (nafsu), maka lahirlah keburukan.

Imam Ibnu Qayyim mengatakan, “Tidak ada batasan cinta yang lebih jelas daripada kata cinta itu sendiri; membatasinya justru hanya akan menambah kabur dan kering maknanya. Maka batasan dan penjelasan cinta tersebut tidak bisa dilukiskan hakikatnya secara jelas, kecuali dengan kata cinta itu sendiri”.

Cerita tentang cinta yg sungguh tdk ada bandingannya ialah cinta Nabi Ibrahim a.s kepada sang penciptanya Alloh SWT. Sebuah totalitas kecintaan (baca: cinta buta) yg sungguh luar biasa telah dipertunjukkan oleh nabi Ibrahim a.s  kpd seluruh makhluk bumi, dg merelakan putranya Ismail utk disembelih karena perintah Alloh SWT. Inilah cinta fitri yg melahirkan kebaikan krn bermuara pada Ilahi.

Ada sebuah kisah cinta dua sejoli yg dimabuk asmara, mereka menjalin cinta yg tak direstui oleh kedua orang tua. Kemudian mereka nekat bunuh diri krn tdk mau saling terpisahkan. Mereka saling berpelukan lalu menjatuhkan tubuh mereka berdua ke dalam gerbong tempat pembakaran batu bara.
Sebelumnya mereka menulis sepucuk surat yg disimpan di dlm gerbong kereta itu dg pesan, ” Kuburkanlah kami berdua dalam satu lubang yg sama”.
Masya Alloh….
Kisah dua anak muda ini telah menunjukkan kpd kita sebuah ikatan cinta yg luar biasa (baca : cinta buta), namun cinta mereka hanya cinta syahwati yg tdk bermuara pada Ilahi.

Ikhwan fillah…
Sungguh Alloh SWT telah menganugerahkan rasa ini kpd setiap manusia, namun ada manusia yg mampu menempatkan rasa cinta ini pada tempat yg benar, namun ada juga yg sebaliknya.

Ikhwan fillah…
Salah satu karakter umat pengganti sebagaimana yg disebut Alloh dlm QS. 5:54 adalah “Alloh mencintai mereka dan mereka pun mencintai Alloh”.
Coba perhatikan hadits di bawah, bagaimana ketika Alloh mencintai hambanya.
Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya Allah SWT jika mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil malaikat Jibril dan berkata: “Wahai Jibril, aku mencintai orang ini maka cintailah dia!” Maka Jibrilpun mencintainya, lalu Jibril mengumumkannya kepada seluruh penduduk langit dan berkata: “Wahai penduduk langit, sesungguhnya Allah mencintai orang ini, maka cintai pulalah dia oleh kalian semua, maka seluruh penduduk langit pun mencintainya. Kemudian orang itu pun dicintai oleh segenap makhluk Allah di muka bumi ini.” (HR. Bukhari)

Berkaitan dengan betapa Allah SWT sangat mencintai kita manusia sebagai hambanya, ada sebuah hadis yang sering kita dengar yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah r.a :
Jika telah lewat tengah malam atau sepertiga malam yang akhir, Allah Yang Maha Mulia dan Agung turun kelangit yang paling rendah (langit dunia), lalu berkata: Adakah orang yang meminta kepada-Ku saat ini, pasti akan aku beri, adakah orang yang memohon ampun, pasti aku ampuni, adakah orang yang bertaubat, pasti aku berikan taubat-Ku, adakah orang yang memerlukan-Ku, pasti akan aku penuhi.” Dan itu terjadi setiap malam hingga terbit fajar”. (HR. Bukhari)

Ikhwan fillah…
Penuhilah dada ini dengan kecintaan pada-NYA.
Cintailah manusia yg mencintai-NYA dalam ikatan cinta kepada-NYA.
Cintailah setiap amal yg dapat mendekatkan diri kepada cinta-NYA.

Setetes kebencian di dalam hati, Pasti akan membuahkan penderitaan, Tapi setetes cinta di dalam relung hati akan membuahkan kebahagiaan sejati.

Kalahkan Kemarahan dengan Cinta Kasih.
Kalahkan Kejahatan dengan Kebajikan.
Kalahkan kekikiran dengan Kemurahan Hati.
Kalahkan Kesombongan dengan Kejujuran.

Ikhwan fillah…
Cinta kepada Alloh memang harus buta tanpa berharap mobil angkot atau avanza.
Biarlah Alloh yg mengurus semuanya tentang kehidupan kita.
Yang penting jangan pernah berpaling kepada cinta selain cinta kepada-NYA.
SEMOGA… ***

SAKITNYA TUH DISINI..

30 Mei 2015

SAKITNYA TUH DISINI..“.
Oleh : Abu Faqih Al-Topani

Kalimat di atas merupakan judul sebuah lagu dangdut yg dipopulerkan oleh salah seorang penyanyi asal Bandung, Cita Citata. Seorang pendatang baru yg langsung melejit namanya krn membawakan lagu tersebut.

Lagu tersebut sempat menjadi top hits di belantika musik dangdut Indonesia dan melambungkan nama penyanyi nya. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, banyak yg hapal lirik lagu ini, dari pada hapalan surat an-naba.

Kajian kali ini bukan untuk membahas siapakah sosok Cita Citata, atau berapa royalti yg dia dapatkan dari lagu tersebut.

Saya hanya teringat dengan salah satu surat di dalam Al-Quran yang membicarakan tentang karakter Muhsinin(orang yg berbuat kebaikan) yaitu dalam surat Ali-imran ayat 134, “Alladziina yunfiquuna fissarooi wadhdhorooi wal kaadhimiinal ghoidho wal  ‘aafiina ‘aninnaas, walloohu yuhibbul muhsiniina”. Artinya (yaitu)orang-orang yg berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yg menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan )orang lain. Dan Alloh mencintai Muhsinin (orang yg berbuat kebaikan).

Ikhwan fillah…
Muhsinin adalah sebuah karakter manusia yg bukan hanya baik tetapi sangat sangat baik.
Pernahkah kita tiba2 dimaki orang ?
Pernahkah kita tiba2 dipukul orang?
Pernahkah kita tiba2 diludahi orang?

Di dlm ajaran Islam, kita diperkenankan utk membalas orang yg pernah memukul kita dengan pukulan yg sama. Itulah yg disebut dg Qishos yaitu hukuman sebanding perbuatan.

Lalu apa yg akan kita lakukan jika hal itu pernah terjadi ?
Kita punya dua haq :
– bersikap adil dg melakukan qishos
– memaafkan orang yg pernah mendholimi kita.
Silahkan lihat QS.2:178 dan QS.5:45 ayat tentang qishos.
Di dalam ayat tsb. Kita punya haq utk membalas nyawa dg nyawa,mata dg mata,hidung dg hidung,dls.
Akan tetapi ketika kita memilih utk memaafkan, maka sesungguhnya kita telah menunjukkan pribadi yg lebih berkualitas dibanding dg orang yg telah mendholimi kita.
Itulah yang disebut ‘Muhsinin’.

Kembali kpd QS.3 : 134 tentang ciri-ciri Muhsinin yaitu :
– org2 yg berinfaq baik di waktu lapang maupun sempit.
– org2  yg mampu menahan amarahnya.
– org2 yg memaafkan kesalahan org lain.
Ciri yg pertama :
Berinfaq di jalan Alloh ketika kita memiliki kelapangan rezeki pasti jauh lebih mudah ketimbang rezeki kita lagi seret. Ketika Alloh sedang memberikan keterbatasan rezeki kpd kita, biasanya kita lebih mendahulukan kebutuhan pribadi dahulu ketimbang utk membayar infaq, padahal jika kita lihat QS.28 : 77 , kita hrs mendahulukan pahala negeri akhirat, baru kemudian kebutuhan kita.
Seorang Muhsinin mampu mendahulukan kepentingan akhirat nya baik lapang maupun sempit.
Ciri yg kedua :
Rasanya tdk ada manusia yg tdk memiliki rasa marah. Sikap marah ini timbul biasanya krn ada sesuatu yg tdk sesuai dg keinginannya. Di dlm hadits, Rosululloh mengatakan bahwa ketika seseorang marah, maka setan akan masuk mengikuti aliran darahnya. Maka kita dianjurkan utk membaca istighfar dan berwudlu, agar rasa marah itu bisa hilang. Seorang Muhsinin adalah org yg mampu mengendalikan nafsu amarahnya.
Ciri yg ketiga :
Kita tdk cukup hanya mampu menahan amarah saja tp tdk diikuti dg memaafkan kesalahan orang, karena hal itu akan menjadikan kita seorang pendendam. Rosululloh adalah sosok manusia pemaaf, padahal malaikat jibril saja sudah geram dg tindakan org kafir Mekah pd saat itu. Beliau hanya berkata “Biarkanlah wahai Jibril. Mereka melakukan itu karena blm memahami agama ini dg benar”.

Ikhwan fillah…
Menjadi Muhsinin itu membutuhkan kedewasaan diri dan kematangan jiwa, mengapa kita selalu ingin membalas padahal memaafkan jauh lebih baik. Maka bagi seorang mukmin yg Muhsinin , kata-kata ” SAKITNYA TUH DISINI “,(sambil menunjuk dadanya), tdk akan pernah ada, krn ia selalu berlapang dada dan memohon kebaikan pd Alloh.

Semoga kita menjadi pribadi2 yg Muhsinin… ***

Perjalanan Hidup Manusia

11 April 2015

Kehidupan manusia pada dasarnya adalah suatu perjalanan.
Ketika kita melakukan perjalanan jauh apa yg harus kita siapkan ?
Kita perlu peta perjalanan agar tidak tersesat dan bekal yang cukup agar bisa sampai ke tujuan dengan selamat.

Mereka yang tidak punya peta akan tersesat. Karenanya Ketika menurunkan kita ke dunia, Allah telah memberikan Al-Qur’an. Itulah peta  kehidupan yang Allah titipkan sebagai pedoman perjalanan. Jangan sampai salah arah dan berbelok ke rumahnya iblis Laknatullah yaitu neraka…..

Mereka yang bekalnya kurang maka dia tidak akan sampai ke tujuan. Allah swt berfirman : “Dan persiapkanlah bekal kalian, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah ketakwaan”. (Al-Baqarah 197)

Lalu….Dari mana kita sebenarnya memulai perjalanan ini dan mau kemana  tujuan kita ?
Sebagian besar manusia beranggapan bahwa perjalanan manusia itu adalah dari dunia menuju akhirat.
Benarkah ?

Islam mengajarkan bahwa manusia itu memulai perjalanan dari Rumah kita yaitu Syurga tempat Allah berada dan akan kembali menuju Rumah kita tempat Allah berada.
Rumah Kita bukan di DUNIA ini tapi di Rumah Allah.
Dunia ini hakikatnya bukan tempat awal dan akhir kita tapi ia adalah tempat persinggahan sementara yang menjadi ladang tempat mengumpulkan bekal untuk menempuh perjalanan menuju negeri akhirat.

Ketika ada yang meninggal dunia maka orang berkata “Inna Lillaahi wainna ilaihi roojiun”.
Sesungguhnya kita berasal dari Allah dan akan kembali ke Allah.
Seorang yang meninggal dunia ini pada dasarnya akan kembali ke rumah sebenarnya yaitu Rumah Allah. Karena DUNIA ini hakekatnya adalah tempat merantau yang sifatnya sementara.

Rasulullah saw mengajarkan kepada kita sikap yang benar dalam kehidupan di dunia dalam sabda beliau saw : “Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan”. (HR. Al Bukhari no. 6053)

Hadits ini mengingatkan orang yang beriman tentang bagaimana seharusnya dia menempatkan dirinya dalam kehidupan di dunia. Sebagai orang asing (perantau) atau orang yang sedang melakukan perjalanan maka tempat yang disinggahi adalah hanya tinggal sementara.
Tidak boleh dia terikat hatinya kepada tempat persinggahannya, karena dia pasti harus meninggalkannya suka tidak suka cepat atau lambat.

Sebagai perantau maka ia akan  terus merindukan untuk kembali ke rumah dan kampung halamannya. Demikianlah keadaan seorang mukmin di dunia yang hatinya selalu terikat dan rindu untuk kembali ke kampung halamannya yang sebenarnya, yaitu surga tempat tinggal pertama kedua orang tua kita, Adam ‘as dan istrinya Hawa, sebelum mereka berdua diturunkan ke dunia.

Dalam sebuah nasehat yang disampaikan Imam Hasan Al Bashri kepada Imam Umar bin Abdul Azizi, beliau berkata: “…Sesungguhnya dunia adalah negeri perantauan dan bukan tempat tinggal (yang sebenarnya), dan hanyalah Adam ‘as diturunkan ke dunia ini untuk menerima hukuman (akibat perbuatan dosanya)…”.

Jadi,
Dunia ini bukanlah rumah kita,
Kita bukan penduduk bumi, kita adalah penduduk syurga.
Kita tidak berasal dari bumi, tapi kita berasal dari syurga……….

Maka carilah bekal untuk kembali ke rumah dan kampung halaman.
Kita hanya perantau dalam perjalanan kembali kerumahnya……
Karenanya, Janganlah cari kesenangan dunia….

Mereka yang sedang dalam perjalanan pulang selalu mengingat rumahnya dan mereka mencari buah tangan untuk kekasih hatinya yang menunggu di rumah.

Mereka yang menanti di rumah pun merasa rindu menantikan kembalinya kita dan mengharapkan buah tangan kita.
Lantas, apa yang akan kita bawa untuk mereka yang ada di Rumah Kita ?  Allah dan para penghuni syurga hanya meminta amal sholeh dan keimanan, Kita tidak berasal dari bumi,

Kita adalah penduduk syurga. Rumah kita adalah di Syurga.
Kenikmatannya tiada terlukiskan, dihuni oleh orang-orang yang mencintai kita.
Ada istri sholeha serta tetangga dan kerabat yang menyejukkan hati.

Mereka rindu kehadiran kita, setiap saat menatap menanti kedatangan kita.
Mereka menanti kabar baik dari Malaikat Izrail. Kapan Keluarga mereka akan pulang.

Kita bukan penduduk bumi, kita penduduk syurga.
Bumi hanyalah perjalanan.
Kembalilah ke rumah Allah di Syurga.
Jangan kembali ke rumah Syetan di Neraka. Naudzubillah.

Profil Pribadi Muslim

11 April 2015

Profil seorang muslim yang disebutkan dalam Al Qur’an dan hadits yang perlu kita standarisasikan pada diri kita masing-masing terdiri dari :

  1. Salimul Aqidah (Aqidah yang bersih).

    Pada masa awal da’wahnya, Rasulullah SAW mengutamakan pembinaan aqidah, iman dan tauhid.
    Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah SWT agar tidak menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuanNya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah.

    “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, semua bagi Allah tuhan semesta alam” (QS. 6:162).

  2. Shahihul Ibadah (ibadah yang benar).

    “Shalatlah kamu sebagaimana melihat aku shalat”. Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul SAW yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.

  3. Matinul Khuluq (akhlak yang kokoh).

    Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat.
    Rasulullah SAW diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al Qur’an.  Allah berfirman yang artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung” (QS. 68:4).

  4. Qowiyyul Jismi (kekuatan jasmani).

    Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat dan kuat. Apalagi berjihad di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.

    Karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk hal yang penting, maka Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Mukmin yang kuat lebih aku cintai daripada mukmin yang lemah. (HR. Muslim)

  5. Mutsaqqoful Fikri (intelek dalam berfikir). 

    Salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas). Al Qur’an juga banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berfikir.  Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktifitas berfikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Allah SWT berfirman yang artinya: Katakanlah: “samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”‘, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (QS 39: 9).

    Ketika melarang khamr dan judi yang telah menjadi kebiasaan manusia sejak dahulu kala, Allah mengajak manusia untuk berdialog sebagaimana  firman Allah yang artinya:

    “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir” (QS 2: 219).

  6. Mujahadatul Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu).

    Setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan. Kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam)” (HR. Hakim)

  7. Harishun Ala Waqtihi (pandai menjaga waktu).

    Waktu mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT banyak bersumpah di dalam Al Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan seterusnya. Allah SWT memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi.

    Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk pandai mengelola waktunya dengan baik sehingga waktu berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi SAW adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum datang sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.

  8. Munazhzhamun fi Syuunihi (teratur dalam suatu urusan).

    Dalam hukum Islam, baik masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya. Dengan kata lain, suatu urusan mesti dikerjakan secara profesional, Bersungguh-sungguh, bersemangat, berkorban, berkelanjutan dan berbasis ilmu pengetahuan merupakan hal-hal yang mesti mendapat perhatian serius dalam penunaian tugas-tugas.

  9. Qodirun Alal Kasbi (memiliki kemampuan usaha sendiri/mandiri).

    Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi.

    Seorang muslim boleh saja kaya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan ibadah haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al Qur’an maupun hadits dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi.

    Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik. Keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah SWT. Rezeki yang telah Allah sediakan harus diambil dan untuk mengambilnya diperlukan skill atau ketrampilan.

  10. Nafi’un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain).

    Bermanfaat bagi orang lain merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaan. Jangan sampai keberadaan seorang muslim tidak menggenapkan dan ketiadaannya tidak mengganjilkan. Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berfikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dan mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya.  Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

    “Sebaik-baik Manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. ” Hadits

Berlomba dalam kebaikan

11 April 2015

Manusia pada dasarnya senang berkompetisi. Paham atas sifat manusia, Allah menantang manusia untuk berkompetisi. Bukan berkompetisi untuk saling mengalahkan tapi berlomba untuk berbuat kebaikan. Perhatikan ayat berikut :
“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya yang ia menghadap kepadanya. Maka BERLOMBA -LOMBALAH didalam kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian . Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.(Qs.2:148)

…maka BERLOMBA-LOMBAlah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,(Qs.5:48)

BERLOMBA -LOMBALAH kamu kepada  ampunan dari Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.(Qs.57:21)

Para sahabat sering berlomba untuk melakukan amal shaleh. Umar bin Khattab ra sering berusaha menyaingi Abu Bakar ra untuk berbuat kebaikan. Sampai kemudian Umar mengakui bahwa Abu Bakar selalu bisa berbuat kebaikan lebih banyak dan lebih cepat.

Di ayat lain Allah bahkan mengiming-iming untuk berlomba mendapatkan kenikmatan syurgawi:

…dan untuk yang demikian itu hendaknya orang BERLOMBA-LOMBA.(Qs.83:26)
Namun demikian Allah mengingatkan bahwa berlomba dalam kebaikan itu hrs dalam koridor aturan Allah. Bukan kebaikan menurut penilaian diri sendiri. Allah mengingatkan :

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok.  (Al Kahfi 103-106)

Allah Tertawa di Kilometer 377: Catatan Kecil Selepas Touring

11 April 2015

“Saya malu, Wan,” bisik Pak Eki pada saya. “Bikin merinding,” komentar Mas Waris.

 

The Power of Brotherhood

Ada seseorang yang mendatangi Rasulullah (dalam keadaan lapar), lalu Rasul mengirim utusan kepada istri-istri beliau. Istri Rasul menjawab, “Kami tidak memiliki apapun kecuali air.” Rasulullah bertanya kepada para sahabat, “Siapakah di antara kalian yang ingin menjamu orang ini?” Salah seorang kaum Anshor berseru, “Saya.” Lalu orang Anshor ini membawa lelaki tadi ke rumah istrinya, (dan) ia berkata, “Muliakanlah tamu Rasulullah.” Istrinya menjawab, “Kami tidak memiliki apapun kecuali jatah makanan untuk anak-anak.” Orang Anshor itu berkata, “Siapkanlah makananmu itu, matikan lampu, dan tidurkanlah anak-anak kalau mereka minta makan malam.” Kemudian, wanita itu pun menyiapkan makanan, mematikan lampu, dan menidurkan anak-anaknya. Lalu kedua suami istri ini menemani tamunya makan seakan mereka sedang makan bersama. Setelah itu suami istri itu tidur dalam keadaan lapar. Keesokan harinya sang suami datang menghadap Rasulullah. Beliau bersabda, “Malam ini Allah tertawa karena takjub dengan perilaku kalian berdua.” (H.R Bukhari).

 

Kelelahan yang berkombinasi dengan kurang tidur ternyata menghasilkan rasa lapar yang hebat. Maka, tanpa basa basi kami menyantap habis hidangan makan pagi di Pelabuhan Ratu. Terlebih Pak Deni, Kang Dadi, beserta seluruh rombongan Jakarta Bogor melayani kami habis-habisan. Sagala diasongkeun!

Tak terpikirkan sedikit pun kalau mereka sendiri belum menyentuh makanan sama sekali. Kami pikir mereka sudah makan duluan. Kami baru ngeh ketika mereka mengambil makanan setelah beres melayani kami. Padahal, lauk pauknya nyaris kami habiskan sendiri.

Saudara kami dari Jakarta Bogor telah mempertontonkan pertunjukkan itsar dengan sangat anggun. Itsar adalah level ukhuwah tertinggi, yakni saat seseorang lebih mengutamakan kepentingan saudaranya daripada kepentingannya sendiri.

Dan, kemegahan itsar pun tersaji indah di pelupuk mata kami, seakan mengulang kejadian serupa berabad-abad lalu di bumi Madinah. Maka, Allah pun kembali tertawa di sini … di kilometer 377.

 

وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلْإِيمَٰنَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِى صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ أُوتُوا۟ وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِۦ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ ﴿٩﴾

 

Dan orang-orang (Anshor) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri sekalipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS Al Hasyr 9).

Semoga keberkahan dan rahmat Allah senantiasa tercurah untuk saudara-saudara kami dari Jakarta Bogor.

Catatan Pak Eki:

Bandung-Bogor +/-  278 km.

Bogor-Pel. Ratu +/- 99 km.

Bandung-Pel. Ratu 377 km.

Konspirasi Hati: Catatan Kecil Selepas Touring

11 April 2015

“Total +/- 584 km,” tulis Pak E. “Setara jarak Jakarta-Surabaya,” tambah Pak D. “The real touring,” ungkap Pak De saat memeluk saya. Itu data statistik di lapangan. Tapi bukan itu yang paling penting. Yang jadi inti pelajaran buat saya itu yang di bawah ini: “Yang penting adalah bagaimana kita memaknai sebuah peristiwa,” demikian kurang lebih ajakan Pak D kepada peserta touring. “Ini bukan perjalanan fisik. Ini adalah perjalanan ruhani. Kalau cuma perjalanan fisik, maka yang terasa hanyalah cape dan pegal,” tegas kang A dalam uraian kuliah shubuhnya mengajak peserta memaknai lebih perjalanan ini.

“Maka dibutuhkan kesabaran untuk taat pada aturan perjalanan yang sudah ditetapkan,” tegas ketua rombongan mengawali perjalanan touring. Maka jadilah jarak 584 km ini  menjadi sebuah perjalanan ruhani. Dan, inilah catatan seputar hikmah perjalanan yang bisa saya tangkap.

 

The Power of Togetherness

Buat biker amatiran seperti saya, bisa melahap jarak 584 km adalah sesuatu yang luar biasa. Kalau saya disuruh sendirian bermotor sejauh itu, maka jawaban saya pastilah, “Sararangeuk teuing!” Tapi apa yang membuat saya bisa bertahan melewati jarak sejauh itu? KEBERSAMAAN, itulah kuncinya.

Rasa kebersamaan seperti kang Ucu yang dengan suara klaksonnya setia membangunkan Pak Deden yang ‘tertidur’ di atas motor. Atau kang Ridwan, Om Zae, kang Omo beserta staffnya yang sigap menangani semua kerusakan motor. Atau kang Rohman yang tidak tidur semalaman jagain motor saat kita semua lelap tertidur di teras mesjid.

Inilah kekuatan buah dari kebersamaan. Bukan sekadar kebersamaan fisik, tapi juga kebersamaan hati yang sama-sama mengharap ridla Allah. Hati yang berkonspirasi untuk mempersembahkan amalan terbaik kepada Allah, seperti yang ditaushiyahkan Pak Deni.

Maka manfaatkan kebersamaan ini untuk membangun kebaikan di antara kita. Gunakan kebersamaan ini untuk membangun budaya keshalehan di antara kita karena bumi Allah ini hanya akan Ia wariskan kepada hamba-Nya yang shaleh (QS Al Anbiya 105).