Makna Kalimah Tauhid : Laa Ilaaha Ilallah

Pernyataan “Laa ilaaha illa-Allah” merupakan penerimaan dan janji seseorang untuk mengabdikan diri kepada Allah semata dengan menjadikan Islam sebagai pengatur seluruh aspek kehidupan dan satu-satunya jalan yang harus ditempuh untuk mengabdi kepada-Nya serta membebaskan semua ketergantungan kecuali hanya pada Allah.

Konsekuensi Laa Ilallah dapat dikelompokan menjadi 3 Tauhid yaitu :

  1. Tauhid Rububiyah dengan makna :
    LaaKhaalika illallah,
    Laa hafidza illaah
    Laa Mudabbira ilallah
    LaaRaazika illallah
  2. Tauhid Uluhiyah dengan makna :
    LaaMa’buda illallah
    LaaGhoyatu illallah,
    LaaWaaliya illallah
  3. Tauhid Mulkiyyah dengan makna
    LaaMaalika illallah,
    LaaMulka illallah
    LaaHaakima illallah

1. Tauhid Rububiyyah

Makna Laa Khaaliqa Ilallah

Qs 2:21 : “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang menciptakanmu dan orang-orang sebelummu, agar kamu bertaqwa”

Qs 51:56 : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahku”

Qs 7:54 “…mencipta dan memerintah hanyalah hak Allah.

Manusia  ‘berislam’ kepada Allah sebagaimana mengadakan ‘kontrak perjanjian tauhid’ (QS 7:172 ; 30:30).

Bukti bahwa sebenarnya Manusia ‘Islam” adalah bahwa kebanyakan manusia akan menjawab ‘Allah’ jika ditanya “Siapakah pencipta langit dan bumi”? (QS 10:31).

Seluruh manusia mengakui bahwa jagat raya ini ada penciptanya dan bahwa di luar kekuatan mahluk terdapat kekuatan supranatural yang maha hebat yang menunjukkan adanya tanda-tanda keberadaan dan kebesaran Allah

(QS 2:164 ; 3:190-191 ; 30:20-27 ; dsb.)

Banyak manusia yang berfikir tentang bagaimana kejadian alam semesta ini sehingga menghasilkan berbagai teori  bigbang, evolusi dll. Namun apapun hasil pemikiran mansuia tersebut, mereka sebenarnya hanya menduga-duga saja. Dugaan mereka bisa benar, bisa salah. Yang jelas benar adalah bahwa proses kejadian alam semesta maupun proses-proses yang ada di alam semesta itu sendiri merupakan ciptaan Allah Ta’ala, mungkin melalui teori bigbang, hukum positif materi, evolusi, dialektika sejarah, atau beratus beribu bahkan berjuta kemungkinan yang lain.
(QS 45:22-26).

QS 22:5 ; 10:3–6 ; 16:65-72 ; 24:41-45 ; 25:45-54

Yang memiliki kemampuan mencipta hanya Allah, taksatupun mahkluk diberi wewenang untuk mencipta. Yang bisa dilakukan makhluq hanya mengutak-atik yang telah ada, melakukan assembling. Kiranya suatu saat manusia dapat membuat makhluk hidup dengan mencampur berbagai bahan kimia, itupun hanya assembling, membuat dari yang ada. Hanya memberikan kondisi supaya terjadi kehidupan, sama halnya dengan manusia dapat memberikan kondisi kepada kematian.

Makna Laa Haafidha Illa LLah.
 
Allah sebagai Satu-satunya Penjaga alam semesta beserta isinya, baik mulai yang lalu, sekarang, maupun sampai nanti di hari akhir. Allah SWT menciptakan suatu mekanisme untuk menjaga alam dan isinya agar senantiasa harmonis, misalnya mekanisme makrokosmos. Bumi, bulan, matahari, dan berjuta bahkan bermilyard ‘matahari’ yang lain (bintang-bintang) mempunyai garis edar, kecepatan edar, dan berat masing-masing.  ‘Benda-benda besar’ itu bergerak mengikuti konfigurasi tertentu sehingga tidak saling bertubrukan

(QS 10:5 ; 36:38-40 ;dsb).

Allah juga menjaga pertumbuhan embrio dalam rahim ibu (QS 22:5 dsb).

Allah juga menjaga terhadap kemurnian al-Quran, sehingga banyak orang yang bisa mendalami dan menghafalkan kitab suci tersebut. 

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran”? (QS 54:17,22,32,40).
“Dan sesungguhnya Kami menurunkan al-Quran dan Kamilah yang menjaganya” (QS:15:9).

Makna Laa Mudabbira Illallah

Tiada pengatur di alam semesta ini kecuali Allah SWT semata, maknanya Allah sebagai pembuat tunggal aturan-aturan kehidupan, baik dalam kehidupan natural, sosial, maupun kultural. Dalam kehidupan misalnya, Allah sebagai Mudabbir (Pengatur) dinamika jagat raya yang, sebagaimana Muslim dan non-Muslim ketahui, begitu harmonisnya tanpa cacat. Bermilyard-milyad bintang bergerak tanpa bersentuhan satu dengan lainnya. Begitu luasnya dimensi ruang alam sehingga sinar suatu bintang yang terangnya berpuluh bahkan beratus kali sinar matahari hanya berkelap-kelip. Gerakan rotasi maupun revolusi matahari dan bumi yang begitu rapi tetap menghasilkan 24 jam sehari. Sinar panas mentari yang diterima laut sehingga uapnya dibawa angin ke atas lalu berwujud awan berubah menjadi air hujan dingin yang jatuh ke bawah sehingga menumbuhkan tanaman lalu manusia bisa makan nasi, roti, buah-buahan, dsb. dan minum teh, kopi, coklat, dsb.

“Dia (Allah) mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian urusan itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu” (QS as-Sajdh 32:5).

Gejala alam semesta tersebut di atas begitu harmonis tanpa problem, karena memang tidak ada sekutu bagi Allah dalam mengatur kehidupan natural.

Sebaliknya, kehidupan sosial dan kultural manusia saat ini telah rusak, sakit, dan penuh dengan problems. Quran menyebutkan bahwa kerusakan di darat dan laut karena ulah tangan manusia (QS ar-Ruum 30:41). Lihatlah pembunuhan, perang, korupsi, perampokan, prostitusi, penipuan, monopoli, perjudian, permabukan, dsb-dsb. Mengapa demikian ?!  Tangan-tangan kotor manusia telah merusak dunia, yaitu dengan mengangkat “tuhan-tuhan yang baru” (sesama manusia, nafsu, otak, harta, isme, boss, teknologi, jabatan, uang, dsb-dsb) sebagai pengatur kehidupan sosial dan kulturalnya. Aturan hidup dari Tuhan yang sebenarnya (Allah), yaitu Diinul-Islam, dicampakkan begitu saja, diabaikan, atau disesuaikan dengan “tuhan-tuhan baru”-nya.

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya ? …”(QS al-Jatsiyah 45:23).

“Katakanlah: mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi madharat kepadamu dan tidak pula memberi manfaat ? …”(QS al-Maidah 5:76)

“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa…”(QS al-Anbiyaa 21:22).

Makna “Laa Raazaqa Ilallah”

Qs 2:22 “Dialah yang menjadikan bumi sebagi hamparan bagimu dan langit  sebagai atap, dan dia menurunkan air(hujan) dari langit, lalu Dia  menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki  untukmu …”

Qs 17:30-31 : “Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rizki kepada siapa yang Dia       kehendaki dan menyempitkannya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui  lagi Maha Melihat akan hamba-hambNya. Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karean takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rizki kepada mereka dan juga kepadamu.       Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.”

Allah sebagai Raazaq artinya Allah sebagai pemberi rejeki kepada seluruh mahluk di alam semesta. Pada hakekatnya semua rejeki yang dinikmati mausia berasal dari Allah. Allah sajalah yang menjadikan otot-otot manusia berfungsi sehingga dapat bergerak untuk mencari uang atau harta benda. Allah sajalah yang menjadika otak manusia bekerja sehingga dapat berpikir  untuk menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Allah sajalah yang menciptakan alam semesta beserta isinya sehingga manusia dapat makan nasi, minum air, bernafas udara, bermandi sinar matahari, meikmati pemandangan alam yang indah, dsb.

Rejeki adalah ‘nikmat’, yaitu segala sesuatu yang enak yang dicari dan dibutuhkan manusia seperti uang, harta benda, ilmu, kesempatan, kesehatan, kemampuan, jabatan, dan sebagainya. Rejeki (nikmat) yang paling berharga, dari seluruh rejeki di dunia ini, adalah petunjuk (Huda) dari Allah untuk hidup dalam Iman dan Islam.

 “Maka nikmat Tuhanmu yag manakah yang kamu dustakan ?” (“Fabiayyi aalaaai rabbikumaa tukadzdzibaan”), demikian sindiran Allah yang diulang sampai 31 kali dalam surat ar-Rahmaan. “Jika kamu menghitung nikmat Allah maka kamu tidak akan mampu” (“Wain ta’udduu ni’matallaahi laa tuhsuuhaa”), demikian firman Allah dalam ayat lain.

Kewajiban manusia adalah bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah diberikan, yaitu dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah. Dengan kata lain, sebagai ‘abdullah’ manusia mengabdi (memperhambakan diri) hanya kepada Allah dan sebagai ‘khalifatullah’ manusia mengelola dan memanfaatkan alam semesta beserta isinya menurut aturan-aturan Sang Pencipta (Allah SWT). 

“Dan ingatlah, tatkala Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'” (QS Ibrahim 14:7).

“Dan Dia (Allah) telah memberikan kepadamu dari segala keperluan yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari nikmat Allah” (QS Ibrahim 14:34).

Katakanlah,’Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rejeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi siapa yang dikehendaki-Nya’. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rejeki yang sebaik-baiknya” (QS Saba’ 34:39).

Allah jamin rizki tiap-tiap mahluknya, siapa takut tidak dapat rizki, rizkinya akan sempit. Kita samasekali tidak boleh khawatir terhadap rizki yang diberikan Allah, tetapi kita tidak boleh berpangku tangan, diam menungguh hujan rizki dari langit, kita harus/diwajibkan berusaha, ikhtiar untuk mendapatkannya.

Salah satu rizki yang jarang diperhitungkan manusia adalah oksigen. Pernahkah kita merenung rizki oksegen yang kita hirup setiap saat?  bagaimana kalau penggunaan oksigen di charge? Coba anda hitung kita butuhkan oksigen kita 24 jam, lalu harga oksigen, kemudian hitung berapa uang yang harus dikeluarkan kalau oksigen kita beli       setiap bulan? Tidakkah ikwan berpikir betapa rizki Allah diberikan tanpa menghitung-hitung. Coba renungkan lagi, renungkan dan renungkan.

Kecenderungan ketakutan untuk tidak memperoleh rizki ini kiranya  banyak melanda kita, kita ragu-ragu bahkan mau-maunya manusia mencari yang tidak halal, termasuk korupsi yang sedang hangat  didiskusikan. Kini orang takut pula punya anak lebih dari dua,  takut rizkinya sempit, padalah Allah menjamin anak-anak itu       lihat ayat diatas, tapi kita RAGU terhadap jaminan Allah ini,  keraguan ini menunjukkan pengertian kita terhadap aqidah masih lemah. Apakah ikhwan RAGU terhadap jaminan ALLAH ? renungkanlah,        lalu jika tidak saya ucapkan selamat, iman ikhwan telah tegar, bila jawabnya iya, berushalah meningkatkan iman, yakinlah kepada Allah sepenuh jiwa, hilangkan semua keraguan. Ingat iblis dan   pasukannya menghancurkan pertahanan iman dari keraguan.

2. Tauhid Uluhiyyah:

Makna “Laa Waliya Ilallah”

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, kalau mereka mengetahui” (QS al-Ankabuut 29:41).

Mereka memproklamirkan “tuhan-tuhan yang baru” sebagai pelindung kehidupan yang kekuatan sebenarnya seperti sarang laba-laba – lemah dan suatu saat akan hancur. Realitas sejarah telah berbicara; “tuhan komunisme” telah tumbang, sesudah dijadikan pelindung puluhan (mungkin) ratusan juta orang selama kurang lebih setengah abad; “tuhan jabatan” tidak akan melindungi lagi setelah pensiun; “tuhan teknologi” (senjata, televisi, video, dsb) tidak jarang menimbulkan kerusakan-kerusakan. Semua “tuhan-tuhan baru” ciptaan manusia akan binasa dan hancur, setelah Tuhan yang sebenarnya (Allah Rabbul-‘izzati) memerintahkan malaikat Isrofil untuk meniup terompet sangkakala, pertanda kehidupan dunia mulai berganti dengan Hari Akhir.

Bagi orang-orang yang beriman, pelindung kehidupannya adalah Pelindung Perkasa – Allah Azza wa Jalla. Rasulullaah SAW dan sesama orang yang beriman juga menjadi pelindungnya, untuk tetap mempertuhankan Allah semata.

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati, yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa” (QS Yunus 10:62-63)

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk kepada Allah (QS al-Maidah 5:55). “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapakmu dan saudara-saudaramu sebagai pemimpin-pemimpinmu jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan …”(QS at-Taubah 9:23)

Makna Laa Ghaayah ilallah

Allah sebagai Ghaayah artinya Allah sebagai tujuan hidup.   Sadar atau tidak, dipahami atau tidak, beriman atau tidak, semua manusia sedang berjalan terus, dari detik-menit-jam-hari-bulan-tahun ke seterusnya, menuju ke keharibaan Allah yang Agung. Dengan kata lain, seluruh manusia akan pasti mati dan kemudian mempertanggung-jawabkan seluruh perbuatannya ketika di dunia. Semua manusia meyakini realitas kematian tetapi tidak semuanya beriman kepada hari akhir. “Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu. Maka pasti kamu akan menemui-Nya” (QS al-Insyiqaaq 84:6).

Makna yang lain adalah bahwa semua aktifitas kehidupan manusia hendaklah diorientasikan kepada Allah, menuju Mardhatillaah. Alam semesta beserta isinya telah diciptakan dan diberikan kepada manusia dengan gratis; Allah hanya menganjurkan manusia, tidak memaksanya (baca QS 2:256 ; 18:29), untuk beriman dan bertaqwa kepada Allah. Semuanya milik Allah dan semuanya akan kembali kepada Allah (“Innaalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun”). Dan kepada Allah-lah dikembalikan semua urusan (“Wailallaahi turja’ul umuur”).

Konsekuensi dari pengertian ini adalah bahwa semua aktifitas kehidupan manusia dilakukan dengan niat utama ibadah kepada Allah, yang tentunya menurut aturan Allah. Makan, minum, tidur, belajar, bekerja, berolahraga, shalat, puasa, dsb-dsb., harus ditujukan pada titik akhir, yaitu ridha Allah. Jika manusia memenuhi kewajibannya untuk beribadah kepada Allah, maka Allah pasti akan memberikan hak kepada manusia untuk memperoleh kenikmatan di dunia dan akhirat. Bahkan kepada orang yang ingkar (kafir) pun, Allah memberikan nikmat (tetapi di dunia saja).

Seseorang yang belajar harus diniatkan untuk mengabdi kepada Allah sebagai niat utama. Niat untuk mencari ilmu dan agar kelak mendapatkan pekerjaan tidaklah niat yang salah, tetapi niatan itu harus di bawah niat utama. Sebagai orang yang beriman, segala sesuatunya harus dapat dikembalikan kepada Allah; Jaringan relasi antara mukmin dan Allah tidak harus putus, tetapi senantiasa harus dijalin terus-menerus dalam segala aspek kehidupan, sebagai bukti dari keimanannya itu.

Qs. 94:8 ” Dan hanya kepada Allalah hendaknya kamu berharap (menempatkan tujuan).”

“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia dan bertaqwalah kepada-Nya, dan sekali-kali Tuhanmu tidak lali dari apa yang kamu kerjakan” (QS Huud 11:123)

Laa Mahbuuba illa laah

“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binaang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)” (QS al-‘Imran 3:14).

Cinta yang paling utama bagi seorang mukmin adalah cinta kepada Allah, Rasul-Nya, dan perjuangan di jalan-Nya. Walaupun demikian, mayoritas manusia yang hidup di dunia saat ini ‘tidak beriman’; Mereka mengabaikan cinta yang utama tersebut. Cinta kepada harta, uang, jabatan, anak maupun istri (suami) – yang berlebihan – mengalahkan cinta yang utama tersebut. Materialisme dan kapitalisme telah membelengu manusia yang ingin mengabdikan diri kepada ‘Tuhan yang sebenarnya’ (Allah Rabbul-‘aalamiin). Dua paham (isme) tersebut telah menjadi ideologi, menjadi ‘tuhan-tuhan yang baru’. Dunia telah menjadi obyek cinta yang berebih-lebihan. Padahal, Allah Mahbuub – yang berhak diutamakan dalam cinta.

“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah         mendatangkan keputusannya’. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-oang fasik” (QS at-Taubah 9:24)

Seseorang yang mencintai sesuatu senantiasa berusaha untuk menjalin relasi dan komunikasi dengan apa yang dicinanya. Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya harus dijalin dengan terus-menerus, seperti diwujudkan dengan shalata, membaca al-Quran, mengkaji hadits-hadits, beramal sholeh, dsb. Ketaatan kepada Alah dan Rasul-Nya adalah bukti cinta orang-orang yang beriman. Cinta dunia harus dapat diorientasikan kepada cinta Allah dan Rsul-Nya, agar kecintaan kepada dunia dapat dikendalikan dengan sebaik-baiknya, tidak berlebihan-lebihan. Dengan kata lain, cinta dunia untuk mencari ‘mardhatillah’

Makna Laa Ma’buuda Ilallah

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu agar kamu bertaqwa. Dia-lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan  itu segala buah-buahan sebagai rejeki untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui” (QS al-Baqarah 2:21-22)

Manusia diperintahkan untuk menyembah (mengabdikan diri) hanya kepada Allah, karena hanya Dia-lah yang pantas menjadi sesembahan (Ma’buud).   Allah sebagai sesembahan adalah konsekuensi tertinggi dari syahadat-tauhid (‘Laailaaha illallaah’). Seseorang yang telah bersyahadat-tauhid berarti dia telah memproklamirkan dan berjanji untuk mengabdikan dirinya kepada Allah semata, artinya tidak mempersekutukan Allah dengan apa pun. Dia telah menyatakan dirinya Muslim (orang yang tunduk-patuh kepada Allah sehingga selamat di dunia dan akhirat). Konsekuensinya, hidupnya untuk taat kepada Allah dan matinya diridloi Allah.

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam’. Tiada sekutubagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah (Muslim)” (QS al-An’aam 6:162-163)

Namun ternyata kebanyakan  mempertuhankan sesama manusia, harta benda, kekuatan alam, maupun nafsu pribadinya. Isa al-Masih yang manusia biasa tu dijadikan sebagai tuhan. Materialisme telah menjadi ideologi yang menggeser aspek ketuhanan. Kekuatan alam, bukan Sang Penciptanya, dianggap sebagai pengatur kehidupan. Nafsu pribadi telah menggusur aturan-aturan Allah untuk memenuhi kebutuhan duniawi.

3. Allah sebagai pemilik (Al-Malik)

 Allah-lah yang memiliki langit dan bumi dan segala diantara keduanya.  Al-Malik berarti juga rajadiraja. Kerajaan Allah meliputi langit dan bumi. Simak Firman Allah Qs 3:26-27.“Katakallah : Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” “Engkau masukkan malam ke dalam siang dan engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hdup. Dan Engkau beri rizki yang Engkau kehendaki tanpa hisab.” (27)

Kedua ayat diatas menunjukkan Maha Kuasa Allah pemilik kerajaan,  Dia dapat berbuat apa saja yang dia kehendaki, berkuasa mutlak.   jadi pada perinsipnya semuanya ini milik Allah, harta yang kita  miliki pada hakekatnya adalah milik Allah yang dipinjamkan/amanat kepada kita, kelak akan  ditanyai amanat itu.

Karena Allah Raja-diraja maka Allah berkuasa mutlak, semua     kejadian di alam yang fana ini atas izin Allah. Mu’jizat para     nabi dan rasul, yang seolah-olah bertentangan dengan sunnatullah      (kalau dilihat dari kacamata sunatullah yang kita kenal)      terjadi karena izin Allah. Semua makhluk adalah hambanya.      Manusia adalah hambanya yang paling mulia sekaligus paling      bandel. Alangkah sombongnya manusia itu, sudah dikarunia      kemulyaan eh menentang, petantang-petenteng, sombong, patutlah      dia di tindak tegas oleh Allah. Tetapi Ada golongan manusia      yang sangat mulia disisi Allah, dialah orang-orang yang bertaqwa.

 Allah berkuasa memberikan kekuasaan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan berkuasa pula mencabut kekuasaan dari siapa      yang dia kehendaki. Allah berkuasa memuliakan siapa yang dia      kehendaki, begitu pula menghinakannya. Berlindung pada Raja      diraja (Allah) dengan kekuasaannya.  

Allah sebagai pelindung (Al-Waliy)

Allahlah pelindung dan penolong mahlukNya, mintalah  perlindungan kepada Allah, niscaya Allah akan melindungi.

Qs 2:257  ” Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir, pelindung-pelindung mereka adalah syaitan yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal didalamnya.”

Perhatikan bagaimana Allah melindungi sang bayi yang tidak memilik kekuatan apa-apa dengan kasih sayang dari orang tuanya? 

Allah sebagai Hakam (yang membuat hukum)

Pengakuan Allah sebagi pembuat hukum harus diakui secara i’tiqadi. Allahlah yang berhak membuat hukum, hukum-hukum yang kita ikuti harus diturunkan dari hukum Allah sekali tidak diperkenankan menentang hukum Allah. Konsekuensi orang yang berhukum selain hukum Allah sangat berat.

Qs 5:44-50 : “…Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang  kafir.” (44)

 “…Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang  zalim.” (45)

“…Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang  diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang  fasik .” (47) 

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: