Ma’rifatullah

DEFINISI TUHAN

Tuhan adalah sesuatu zat atau wujud yang menguasai dan mempengaruhi seseorang sehingga dia tunduk dan patuh kepadanya. Dari definisi tersebut maka Tuhan dapat berupa sesuatu yang abstrak maupun berupa zatiyah.  Dalam Al’Qur’an tidak ada satu ayatpun yang menyatakan bahwa ada orang yang mengaku tidak bertuhan. Yang ada hanyalah orang yang bertuhan kepada Allah dan orang yang bertuhan kepada selain Allah yang menjadikannya sebagai tandingan Allah.

Orang-orang kafir mengakui tentang RUBUBIYAH ALLAH, Tetapi pengakuan tersebut tidak menjadikan mereka tergolong sebagai orang Islam. Allah berfirman, “Dan sungguh, jika Kamu bertanya hepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan mereka’, niscaya mereka menjawab,’Allah’.” (Az-Zukhruf: 87).

Beberapa sosok yang disitir Qur’an dapat mewujud menjadi tuhan bagi seseorang dan menjadi tandingan bagi Allah, diantaranya:

  1. Hawa nafsu
    “Terangkanlah kepadaku tentang orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” 25:43
  2. Para rahib dan pendeta
  3. Sesuatu yang dicintainya
    “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan- tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mencintai  Allah …” Qs 2:165 : (58:22) 

Pandangan Islam tentang Tuhan  terangkum dalam tiga konsep dasar ketauhidan yaitu:

  • Tauhid Rububiyah
  • Tauhid Uluhiyah
  • Tauhid Mulkiyyah

Tauhid Rububiyah

Sesuai dengan etimologi Rab berarti  yang mencukupi, memimpin, memelihara, membantu, mengasuh. Secara harfiah Robb berarti yang menunjang menyediakan kebutuhan orang lain yang menyangkut pemeliharaan,  pertumbuhan, mengatur dan menyempurnakannya. Robb juga mengandung pengertian tuan atau pemilik, Maha pemilik hukum, pembuat hukum dan pencipta hukum.Dalam terminologi Al Qur’an berarti:

  1. Pencipta: 25:2, 40:62
  2. Pemilik: 23:86-87
  3. Pemelihara: 34:21
  4. Pengatur: 6:114, 7:23
  5. Pemberi Rizki: 10:31-32

Pemahaman:

  1. Pengakuan bahwa sesungguhnya Allah adalah Tuhan dan Maha Pencipta alam semesta dan pemilik mutlak alam semesta.
  2. Allah tidak membiarkan alam semesta ini sia-sia. Allah mempunyai ketentuan berupa sunnatullah untuk mengatur alam semesta tersebut.
  3. Allah sebagai robbunnas yang mengatur kehidupan manusia dengan hukumnya.  5:44,   45: 47, 40: 4, 41:6.
  4. Pemeliharaan dan Penjagaan Allah dalam bentuk pemeberian rizki, ketenangan, pemecahan masalah. 12:23-24,101, 28:78, 43:51
  5. Dasar hubungan manusia dan Allah adalah kasih sayang karena keberadaan manusia senantiasa dalam limpahan nikmat dan kasih sayang Allah. Karena hubungan manusia dengan Allah adalah hubungan cinta kasih yang tidak kaku, kering dan gersang. 14:34
  6. Perintah, larangan, hukuman dan aturan yang ditetapkan Allah HARUS dilihat sebagai wujud cinta kasih Allah kepada Manusia.
  7. Manusia membalas cinta kasih Allah dalam wujud ketaatan mutlak kepada Allah serta menolak untuk taat kepada selain-Nya. 2:285, 2:31
  8. Wujud ketaatan kepada Allah adalah dengan taat kepada rasul da ulil amri dari kalangan orang yang beriman. 3:31-32, 4:59
  9. Beriman kepada sifat-sifat Allah tersebut harus secara benar, tanpa ta’wil (penafsiran), tahrif (penyimpangan), takyif (visualisasi, penggambaran), ta’thil (pembatalan, penafian), tamtsil (penyerupaan), tafwidh (penyerahan, seperti yang.banyak dipahami oleh manusia). Allah berfirman,”Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syuura: 11).

Tauhid Mulkiyah

Secara etimologis berasal dari kata Malak yang berarti:

  1. Penguasa, 1:4
  2. Raja, 18:79,2:102,2:247
  3. Yang memiliki, 3:26

 

Pemahaman:

  1. Allah adalah Raja kerajaan langit dan bumi  serta penguasa tertinggi di alam semesta..
  2. Kekuasaan atas pengaturan alam semesta ini hanya ada pada Allah SWT yang tidak pernah digandakan hingga tak ada seorangpun yang menempati kekuasaan absolut seperti dia.
  3. Dengan landasan cinta kasih, Allah mempunyai perangkat aturan yang harus ditaati oleh manusia. 
  4. Untuk kerajaan Allah di bumi maka Allah menunjuk manusia sebagai khalifah (wakil) yang harus mengatur dan mengelolanya sesuai dengan tatanan kehidupan yang bersumber dari wahyu.
  5. Manusia diberikan sedikit saja hak pengaturan atas bumi berupa aspek-aspek material di sekitarnya. Namun itu semua harus ditemukan benang merahnya dengan aspek langit. 
  6. Sebagai khalifah maka pada setiap jaman telah ditetapkan oleh Allah penanggung jawab manhaj yang diberikan distribusi otoritas, legalitas dan kekuasaan dari pemilik mutlaknya yaitu Allah swt.
  7. Mulkiyah Allah di bumi diwujudkan dalam bentuk institusi yang dipimpin oleh seorang rasul sebagai yang mendapat delegasi kekuasaan dan mengatur manusia. Institusi Mulkiyah Allah inilah yang akan menjadi wadah untuk menterjemahkan hukum dan undang-undangNya.
  8. Bukti ketaatan kepada Allah adalah dengan menunjukkan ketaatan total kepada institusi Allah dan tidak memberi ketaatan kepada institusi di luar Mulkiyah Allah. 14:65 , 4:60,140

 Tauhid Uluhiyah

Al-Ilaah (Tuhan) ialah Dzat yang dicintai, dita’ati dan tidak dimaksiati, dengan rasa cemas, pengagungan, cinta, takut, pengharapan, tawakkal, dan tempat memohon kepadanya.

Ketauhidan inilah yang diingkari oleh orang-orang kafir dan yang menjadi sebab perseteruan dan pertentangan antara umat-umat terdahulu dengan para rasul mereka sejak Nabi Nuh alihissalam hingga diutusnya Nabi Muhammad .

Ada tiga pokok yang mendasari pengertian Ilaah:

  1. Mahbubun (yang dicintai).
  2. Matbu’un (sesuatu yang dikuti)
  3. Marhabun (sesuatu yang ditakuti).

 1.        MAHBUBUN.

  • Kalau seseorang mencintai sesuatu (andada-tandingan-tandingan) sejajar dengan cintanya kepada Allah berarti  mereka menyembah tandingan-tandingan tersebut. Jangankan mencintai sesuatu lebih dari cintanya kepada   Allah, mensejajarkan cinta itu saja berakibat fatal.
  • Yang dapat menjadi tandingan-tandingan:

  • Katakanlah: ‘Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan; perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat  tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai selain Allah dan RasulNya dan (dari) berjihad di jalanNya, maka tunggulah  sampai Allah mendatangkan keputusanNya.’ Dan Allah tidak memberi  petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”  Qs 9:24
  • Sesuatu yang dicintai ini sangat penting, karena manusia  sering terpeleset disini. Misalnya dia lebih mencintai bisnisnya,   sehingga meninggalkan pesan-pesan Allah, melanggar syariatNya  dsb. Kita dapat menulislah ilah-ilah lain seperti jabatan,  kekuasaan, dsb. Berdasarkan Qs 9:24 tersebut,

Tingkatan cinta seorang muslim seharusnya mengikuti hierarkhi sbb:

  1. Allah
  2. RasulNya (Nabi Muhammad SAW),
  3. Jihad

Kita tidak dilarang mencintai harta, istri, anak dll, tetapi cintanya harus dibawah cinta kita     kepada Allah, RasulNya dan Jihad. Mengikuti sesuatu selain dari petunjuk Allah bisa dicap memiliki   ilah selain Allah.

2. Matbu’un (sesuatu yang dikuti)

  1. Hawanafsu kalau selalu diikuti maka selalu menjurus ke yang      negatif dan berdasarkan ayat diatas dia kalau seseorang selalu       mengikuti hawanafsunya, maka hawanafsunya tersebut juga menjadi  Tuhannya. “Terangkanlah kepadaku tentang orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” 25:43
  2. Hawanafsu termasuk yang sangat sulit dikendalikan. Dalam kisah       perang Badar, setelah perang usai, seorang sahabat Rasulullah       berujar kira-kira “kita telah menyelesaikan perang besar”,       Rasulullah lalu bersabda yang kira-kira perang tersebut kecil,       perang yang besar adalah perang melawan hawanafsu.

3. Marhabun (sesuatu yang ditakuti).

“Allah berfirman: ‘Janganlah kamu menyembah dua tuhan; sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut.” 16:51

  1. Seorang muslim harus berani, tidak boleh takut kepada siapapun,  kecuali Allah. Takut disini adalah takut Syar’i (takut dan  terpaksa menjalankan sesuatu yang bertentangan dengan perintah  Allah karena sesuatu bisa berarti manusia, jin atau  mahluk lain. Takut Tabi’i dibolehkan. Misalnya takut anjing galak, takut ular berbisa dll.     
  2. Taqwa dalam arti sempit dapat berarti takut. Takqwa kepada Allah bisa berarti luarbiasa takutnya kepada Allah, dilukiskan di  Al-Qur’an, dengan mendengarkan nama  Allah hatinya bergetar karena takut. Dengan takut kepada Allah otomatis akan melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi  segala larangannya.

Tauhid Uluhiyyah MENCAKUP 2 ASPEK  yaitu: Mengingkari Thagut melalui  penolakan terhadap segala macam thaghut lantaran iman kepada Allah.  (2:256),

Macam-macam thaghut:

Syaithon : 36:60,  14:22

Hukum Jahiliyah: 4:60, 5:50

Berhala : 4:117, 14:35-36

Dukun, tukang sihir : 72:6, 2:102

Pemerintahan yang zhalim, penguasa yang menolak tunduk kepada aturan Allah dalam menjalankan pemerintahannya. : 7:17, 5:45

Pengingkaran thd Thaghut bukan hanya dalam hati tapi harus tercermin dalam wujud amaliyah.  16:36, 39:16-18

Allah menegaskan, agar mukminin jangan sampai mengikuti langkah-langkah syaithon. 2:208

Mengimani Allah

Dalam  pandangan tauhid uluhiyah maka Allah adalah sesuatu yang menjadi pandangan hidup dan tujuan hidup seseorang serta tempat mengabdi. Ada dua pilihan pengabdian manusia yaitu  pengabdian kepada Allah atau  mengabdi kepada thaghut. Wujud riil pengabdian kepada Allah memberikan ketentuan bahwa pengabdian dan loyalitas diberikan kepada masyarakat yang telah diberi legitimasi oleh Allah sebagai tempat mengabdi.

 QS 2:257

QS 4:60

QS 5:55-60

QS 18:28

QS 9:71

Allah berfirman: “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah.” (Muhammad: 19)

Nabi bersabda: “Barangsiapa mengucaphan laa ilaaha illallah dengan Keikhlasan hati, pasti ia masuk Surga.” (HR. Ahmad, hadits shahih)

Rasulullah menyeru pamannya Abu Thalib ketika menjelang ajal, “Wahai pamanku, katakanlah, ‘Laa ilaaha illallah’ (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah), seuntai kalimat yang aku akan berhujjah dengannya untukmu di sisi Allah, maka ia (Abu Thalib) enggan mengucapkan laa ilaaha illallah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah tinggal di Makkah selama 13 tahun, beliau mengajak (menyeru) bangsa Arab: “Katakanlah, ‘Laa ilaaha illallah’ (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah), maka mereka menjawab: ‘Hanya satu tuhan, kami belum pernah mendengar seruan seperti ini?’ Demikian itu, karena bangsa Arab memahami makna kalimat ini. Sesungguhnya barangsiapa mengucapkannya, niscaya ia tidak menyembah selain Allah. Maka mereka meninggalkannya dan tidak mengucapkannya. Allah I berfirman kepada mereka: “Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mere-ka, ‘Laa ilaaha illallah (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah)’, mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata, Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sem-bahan-sembahan kami karena seorang penyair gila? ‘Sebenarnya dia (Muhammad) telah datang membawa kebenaran dan membenarkan rasul-rasul (sebelumnya)’.” (Ash-Shaffat: 35-37).

Dan Rasulullah bersabda: “Barangsiapa mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallah’ (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) dan mengingkari sesua-tu yang disembah selain Allah, maka haram hartanya dan darah-nya (dirampas/diambil).” (HR. Muslim)

Sesungguhnya kalimat “Laa ilaaha illallah” itu dapat bermanfaat bagi yang mengucapkannya, bila ia tidak membatalkannya dengan suatu kesyirikan, sebagaimana hadats dapat membatalkan wudhu seseorang. Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa yang akhir ucapannya laa ilaaha illallah, pasti ia masuk Surga.” (HR. Hakim, hadits hasan) %

Tag: , , , ,

3 Tanggapan to “Ma’rifatullah”

  1. junaidi Says:

    MANUSIA TIDAK BISA BERSARE’AT,TORIKAT,HAKEKAT,MA’RIFAT SERTA CINTA, ATAU MELAKSANAKAN APAPUN TANPA PETOLONGAN ALLAH. JADI KEMBALINYA PERMASALAHAN HANYA KEPADA ALLAH JUGA. KARNA MSNUSIA MUTLAK LAHAULAWALA QUATA ILLA BILLAH.

  2. junaidi Says:

    KEMBALI KEPADA ALLAH

    Assalamu’alaikum …….Wr. Wb. Innalillahi wainnalillahi roji’un. artinya Datang dari Allah Kembali kepada Allah. Apakah sudah sesuai peryataan kita dengan kenyataan Allah itu adalah nama dari 99 asmaul husna yang dipilih oleh ahli sunnah wal jamaah dan ulama kenamaan untuk menyampaikan kebaikan dimuka bumi ini.Kalau kita kembali kepada Allah berati kita kembali kepada Nama. apakah sampaian semua mau kembali kepada nama !… Kalau logika (akal sehat) berpikir.. Ya nggak lah yau……. Setiap ada nama pasti ada yang punya nama. ” YANG PUNYA NAMA ITU WAJIB KITA KETAHUI “,
    Ada juga yang mengatakan kembali pada pemiliknya, Pertayaan saya = bagaimana kita bisa dikatakan kembali sedangkan kita tidak mengetahui yang punya nama ?……Kalau kita ingin kembali kepada yang punya nama tentunya kita MA’RIFATULLAH artinya mengetahui atau mengenal yang punya nama………………

    Kemudian apa bila umat muslimin dan muslimat kalau sudah menghembuskan napas terakhir maka jenajah tersebut di mandikan,dikapani,disholatkan dan dikuburkan. Setelah jenajah berada dialam Kubur menurut sunnah Rasulullah dibacakan talkin , karena malaikat munkar dan nangkir akan menanyakan sesuatu kepada kita . Kemudian para ulama,ustad dan pemuka agama membacakan talkin, jika 2 orang malaikat munkar dan nangkir datang kepadamu maka jawablah dengan tegas : pertama Siapa Tuhanmu ? kedua siapa Nabimu? ketiga apa Agamamu dan seterusnya…., dari pembacaan talkin tersebut TIDAK ADA pertanyaan : , “sudah berapa kali kamu juara MTQ, “Sudah berapa banyak Djikir ,sholat,puasa,zakat,haji kamu, sudah berapa banyak dakwah yang kamu kerjakan atau sudah berapa tahun kamu belajar disaudi arabia /mesir/irak.

    TETAPI YANG DITANYAKAN PERTAMA SIAPA TUHANMU ?

    lalu Kita disuruh menjawab Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku. Kemudian Kalau Malaikat itu bertanya Allah itu siapa dan dimana , apa yang akan kita jawab .. jika belum mengetahuinya.
    # JADI SEBAIKNYA # belajar ( berguru ).
    Nah! dengan masalah seperti ini apakah kita tidak takut dengan siksa kubur yang sangat dahsyat .Gunakan Akal pikir bapak dan ibu sebelum ajal menjemput. Banyak sekali orang tertipu dunia dan tidak mengkaji masalah ini. Demikian Kami mohon ma’af jika ada kata- kata kami yang kurang berkenan di hati,
    wassalamu’alaikum … Wr.Wb

  3. Ukhty Says:

    Pertolongan Alloh akan datang manakala kita dapat sabar tetap dalam ketaatan menegakkan syariat Alloh walau dalam keadaan senang maupun susah..
    Maka tidak ada daya dan upaya melainkan dari Alloh, sebagai nutrisi nya kita perlu doa, saum sunnah, tahajud, dzikir, baca Al quran, dll..
    Insya Allooh pertolongan Alloh akan datang, seperti para anbiyah dahulu..
    Nabi muhammad selalu taat kepada Alloh hingga dalam pemboikotannya, saat akan berhijrah ke madinah Alloh lindungi beliau dengan sarang serangga..
    Nabi adalah orang yg taat hingga waktu pengejaran firaun sampai di tepi pantai Alloh perintahkan beliau untuk memukul tongkatnya beliau taat dan pertolongan Alloh datang membelahlah lautan dan menutupnya kembali bersama tenggelamnya firaun..
    Dari sini kita bisa contoh kesabaran dan tetap gigihnya para contoh anbiya dulu dalam rangka An akimuddin hingga datang pertolongan Alloh..
    Subhana Alloh..
    Kita harus mencontoh mereka..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: