Takdir

Suraqah datang kepada Nabi SAW, lalu berkata: Ya Rasulallah, apakah kita akan beramal hari ini dengan apa yang telah ditulis qalam dan telah kering tintanya serta berdasar taqdir dari Allah ataukah terhadap apa yang akan terjadi? Nabi Menjawab: “Kita beramal sekalipun telah tertulis dengan qalam dan telah ditaqdirkan.” Suraqah berkata: Kalau begitu untuk apa kita beramal? Nabi menjawab: “Beramallah, setiap orang dimudahkan dengan apa yang telah diciptakan untuknya.” (HR. Muslim dari Jabir)

Sudah lama perbedaan pendapat masalah taqdir di-bahas dan dicari penyelesaiannya oleh para ulama, namun selalu saja mendapat jalan buntu dan belum dapat terselesaikan. Masalah taqdir merupakan sesuatu yang esensil dalam Islam, karena salah satu dalam rukun iman itu adalah meyakini taqdir Allah yang baik dan jelek. Dengan demikian para ulama tidak pernah berhenti me-ngungkap rahasia-rahasia taqdir ini sesuai dengan kemampuan mereka.

Dr. Abdullah Nashih Ulwan, seorang ulama terpandang di Universitas King Abdul Aziz Jeddah menulis sebuah buku khusus tentang taqdir ini “Af’al Al-Insan bain Al-Jabr wa Al-Ikhtiar” yang diterjemahkan oleh GIP menjadi “Jawaban Tuntas Masalah Taqdir.” Benarkah dengan membaca buku ini masalah taqdir jadi selesai? Jawabnya, belum, namun setidaknya keberadaan buku ini menambah khazanah pemikiran teologi Islam sekaligus membuka satu jalan keluar bagi penyelesaiannya.

Memang, ketika membicarakan masalah taqdir ini, kita harus lebih berhati-hati, karena sedikit saja kita le-ngah, tidak mustahil kelalaian itu membawa kepada kemusyrikan. Pernah suatu malam Rasulullah SAW datang ke rumah Ali, lalu beliau bertanya: “Apakah kamu sudah shalat?” Ali menjawab: “Wahai Rasulullah, jiwa kami ada dalam genggaman Allah, apabila Allah menghendaki, tentulah kami dibangunkan-Nya untuk shalat.” Mendengar jawaban Ali, Rasulullah SAW meninggalkannya tanpa berkata-kata. Sambil keluar Nabi memukul pahanya sambil membacakan ayat: “Dan adalah manusia lebih banyak berdebatnya.” Demikianlah sikap Ra-sulullah SAW ketika mempermasalahkan taqdir, beliau lebih baik meng-hentikan pembicaraan, karena bila diteruskan akan terjadi perdebatan yang tidak ada ujung pangkalnya.

Lalu, bagaimana sesungguhnya mengimani taqdir Allah tersebut? Apakah dengan tidak membicarakannya dianggap telah beriman? “Ikhtiar adalah taqdir.” Kalimat ini merupakan kesimpulan sementara dari pemahaman penulis terhadap beberapa pendapat tentang taqdir ini. Mudah-mudahan dengan penjelasan alakadarnya, maksud ungkapan ini dapat dipahami dan membuka pikiran sementara orang yang memandang taqdir hanya berlaku dalam masalah bencana dan kejelekan saja. Syekh Muhammad Bin Shalih Al-Utsamain dalam risalahnya “Nubdzah fi Al-Aqidah Al-Islamiah” mengemukakan empat pokok iman terhadap qadar/taqdir Allah SWT.

Pertama, meyakini bahwa Allah SWT mengetahui segala sesuatu sekecil apapun, mengetahui peristiwa lampau dan yang akan terjadi, apapun yang kita perbuat Dia Maha Melihat.

Kedua, mengimani bahwa Allah SWT telah menentukan segala sesuatu yang terjadi di “Lauh Al-mahfuzh.” Firman Allah SWT: “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam kitab (lauh Al-mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” Dalam sebuah Hadits dijelaskan: “Allah telah menuliskan qadar setiap makhluk sebelum Dia menciptakan langit dan bumi selama lima puluh ribu tahun.”

Ketiga, mengimani bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah atas kehendak Allah SWT, baik perbuatan-Nya sendiri atau perbuatan makhluk-Nya. Firman Allah: “Dan tuhanmu menciptakan apa saja yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha suci Allah dan Maha tinggi dari apa saja yang mereka sekutukan dengan Dia.”

Keempat, mengimani bahwa Allah SWT menguasai seluruh kejadian dengan dzat-Nya, sifat-Nya dan gerakan-Nya. Firman Allah: ”… Dia telah menciptakan segala sesuatu dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” ,

Setelah mengetahui pokok-pokok iman pada taqdir ini yang pada dasarnya menyimpulkan bahwa amal perbuatan manusia, baik dan buruk, telah tertulis (bukan ditentukan) dalam kitab “Lauh Al-Mahfuzh” di sisi Allah SWT. Masalahnya sekarang ialah apa gunanya amal manusia bila semuanya telah dialas? sebagaimana pertanyaan Umar bin Khathab, serta bagaimana kaitannya dengan kebebasan memilih (ikhtiar) di antara dua perbuatan. Sebagai contoh, seorang berada di antara dua jalan, jalan pertama sangat berbahaya dan jalan kedua tidak berbahaya. Jika Allah telah menentukan dia memilih jalan pertama, apakah ikhtiar masih berlaku? Sebelum menerapkan makna taqdir dan ikhtiar pada contoh di atas, harus dipahami dulu beberapa faktor yang memperjelas masalah ini.

Pertama, Allah memang telah menulis qadar dan pilihan seseorang, tetapi manusia tidak mengetahui putusan yang telah Allah tulis berdasar kemaha tahuan-Nya itu.

Kedua, Allah SWT memberikan penjelasan tentang perbuatan dan akibat-akibatnya melalui para Rasul. Firman Allah: “Mereka Kami utus sebagai Rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah setelah diutusnya rasul-rasul itu.”

Ketiga, Secara syara’, Allah SWT menyuruh manusia beramal baik dan memilih jalan yang selamat sesuai de-ngan kemampuannya. Ia mendapat pahala dari kebaikan yang diperbuatnya dan ia mendapat siksa dari kejahatan yang dilakukannya.

Keempat, berdasarkan kenyataan yang terjadi, se-sungguhnya manusia tidak menyadari bahwa dirinya telah ditentukan untuk melakukan perbuatannya, karena mere-ka diberi akal untuk menimbang dan memutuskan.
Keempat faktor ini mempermudah dalam memahami taqdir dan ikhtiar. Maka pada contoh di atas bisa dijelaskan sebagai berikut: keputusan yang ia ambil sebagai ikh-tiar, sekaligus taqdirnya. Dia memilih (ikhtiar) jalan pertama, itulah taqdirnya. Sehingga kalau kedua-duanya adalah taqdir, maka tentu seharusnya memilih jalan yang selamat.

Dikisahkan dalam Al-Bukhari, suatu ketika Umar bin Khathab dan shahabat lainnya hendak ke Syam. Di te-ngah perjalanan mereka bertemu dengan pasukan yang baru pulang dari Syam dan mengabarkan bahwa di Syam sedang dilanda wabah penyakit tha’un. Maka Umar memutuskan untuk kembali ke Madinah. Tapi Abu Ubaidah menolak dengan mengatakan: “Tidakkah kita lari dari taqdir Allah?” Umar menjawab: “Kita lari dari taqdir Allah ke taqdir Allah yang lain. Bukankah jika kamu menggembalakan untamu dan melihat dua lembah yang satu subur dan satu lagi kering, kamu memilih yang subur. Karena masing-masing keputusan adalah taqdir.”

Kisah lainnya, Umar akan menghukum seorang pencuri dengan potong tangan. Lalu pencuri itu membela: “Aku mencuri karena taqdir Allah” kemudian Umar meng-hukumnya dengan cambukan tiga puluh kali dan baru dipotong tangannya. Umar berkata: “Sesungguhnya kami mencambukmu dan memotong tanganmu adalah taqdir Allah.”
Demikianlah hakikat ikhtiar dan taqdir yang menjadi pendorong seseorang berbuat dan memilih keputusannya. Dengan memahami dan mengimani qadha dan qadar Allah, akan timbul beberapa sikap sebagai buah dari ke-imananan, di antaranya,

Pertama, selalu optimis dalam beramal shalih dan berusaha memilih keputusan yang terbaik.

Kedua, ketika terjadi cobaan menimpa dirinya seperti musibah atau kesakitan, ia akan mencari jalan keluar dan berlapang dada pada keputusan akhir, karena ia telah berusaha sebaik-baiknya, firman Allah: “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di muka bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Al-mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Kami jelaskan supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang diberikan kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap o-rang yang sombong dan membanggakan diri.”

Ketiga, menumbuhkan sikap shabar dan syukur dalam hati setiap mu’min yang mengimani taqdir ini. Sabda Rasulullah SAW: “Sungguh beruntung menjadi seorang mu’min, karena setiap yang menimpanya adalah kebaikan. Jika menimpanya sesuatu yang menggembirakan ia akan bersyukur dan jika menimpanya suatu yang menye-dihkan ia akan bershabar. Inilah kebaikannya.”

Renungkanlah do’a Istikharah ini;
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon Engkau pilihkan yang baik dengan pengetahuan-Mu, dan aku mohon Engkau memberi kekuatan dengan kekuasaan-Mu, dan aku mohon kemurahan-Mu yang Maha luas, karena sesungguhnya Engkau berkuasa, sedang aku tidak berkuasa, dan Engkau Maha mengetahui, sedang aku tidak mengetahui, dan Engkau Maha mengetahui perkara ghaib. Ya Allah, kalau sudah memang Engkau ketahui, perkara ini baik bagiku, bagi agamaku dan kehidupanku serta baik bagi hari penghabisanku, maka berikanlah dia kepadaku dan mudahkanlah urusannya buatku dan curahkanlah berkah bagiku. Dan kalau sudah memang Engkau ketahui, perkara ini tidak baik bagiku, bagi agamaku dan kehidupanku serta bagi hari penghabisanku, maka jauhkanlah dia dariku dan jauhkan aku darinya, dan berikanlah kebaikan kepadaku, dimanapun adanya serta jadikanlah aku orang yang ridla.”
Wallahu a’lam bishshawab.

Tag: , ,

2 Tanggapan to “Takdir”

  1. Agus Satrio Wibowo Says:

    Assalamu’alaikum Wr. Wb
    Begitu luas Ilmu Allah,
    sedangkan pengetahuan manusia adalah terbatas.
    untuk ilmu yang alamiah dan terlihat saja tak seorangpun manusia mampu menguasai seluruhnya, sedangkan ilmu alam itu hanyalah teramat kecil bagiannya dengan yang gaib.
    seperti jumlah manusia dan makhluk berjasad di bandingkan makhluq tak berjasad.
    Menurut saya yang sangat minim pengetahuan dan kajian ilmu,
    Taqdir pertama yang kita alami adalah
    1. Dari mana dan oleh siapa kita dilahirkan
    2. Bentuk muka, raut wajah, warna kulit, dan seluruh fisik kita dari lahir hingga di besarkan orangtua sampai baligh. inilah taqdir kita yang sesungguhnya.
    3. Rezeki, jodoh dan mati. Inilah taqdir kita selanjutnya.
    Tak seorangpun tahu jatah rezeki kita, banyak dan sedikitnya. akan tetapi seorang manusia akan di tuntun oleh Allah SWT untuk menuju ke jalan ini…..
    Kita hanya diberi kesempatan untuk mengusahakan akan tetapi hasilnya adalah yang di taqdirkan. Contohnya.. seorang yg lebih pandai, lebih kuat, belum tentu lebih kaya pada akhirnya.
    Jodoh memang sudah di tentukan… cuma waktu dan tempat yang di rahasiakan.
    dan taqdir yang paling rumit adalah kematian.
    Maka dari situ dapat saya ambil kesimpulan
    bahwa pengetahuan tentang taqdir… tidak jauh dan lebih mendekati jika kita mampu menjabarkan perenungan kita terhadap pohon kelapa..
    Mari kita sama2 merenunginya……

  2. junaidi Says:

    MANUSIA TIDAK BISA BERSARE’AT,TORIKAT,HAKEKAT,MA’RIFAT SERTA CINTA, ATAU MELAKSANAKAN APAPUN TANPA PETOLONGAN ALLAH. JADI KEMBALINYA PERMASALAHAN HANYA KEPADA ALLAH JUGA. KARNA MANUSIA MUTLAK LAHAULAWALA QUATA ILLA BILLAH.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: