Karakteristik Mujahid

 

*Kepribadian Pejuang Aqidah*

 

Aqidah adalah ikatan spiritual yang mengikat seseorang dengan Rabbnya. Ia merupakan ikatan yang  kukuh,  yang tak tergoyahkan oleh adanya krisis materi atau penindasan manusia. Karena ia merupakan ikatan ruh dengan Haqiqat luhur dan ikatan yang terpatri dengan kemantapan hati dan pancaran pemikiran antara sang pejuang dan da’wahnya.

 

Sungguh keliru orang yang menganggap aliran  pemikiran atau ide-ide buatan manusia yang dijadikan falsafah politik dan ekonomi sebagai Aqidah, meski dalam beberapa fenomena dan tujuannya ada yang sama.

 

Aqidah tumbuh dari ruh dan berkembang dari qalbu serta berhubungan dengan sebab-sebab samawi. Karena  itu  ia bersifat abadi, sebagaimana tampak keabadian Aqidah yang dibawa para Nabi dan Rasul. Dan keabadian ini tidak didapat di dalam teori dan  pemikiran  sosial  filosof dan sarjana manapun.

 

Pejuang Aqidah adalah pejuang yang memiliki jiwa pengorbanan, yang hidup untuk al-Haq dan mati dijalan al-Haq. Baginya seorang pejuang Aqidah, Aqidah adalah segala-galanya.

 

Aqidah adalah thabi’ah bukan ilmu, syu’ur bukan falsafah dan khuluq bukan ide, sebab, hatilah yang menangkap pengetahuan samawi dan  memancarkan  dorongan-dorongan luhur; dorongan kebaikan antara fenomena jiwa Insaniyah Akal hanyalah gambaran pemikiran yang  serba  terbatas dan dengan akal semata orang tidak cukup untuk mengetahui haqiqat luhur. Akal, dalam keterbatasannya itu, akan merasakan kepuasan yang dalam bila dengan Aqidah.

 

Aqidah adalah ikatan paling kuat yang mengikat  antara pejuang dan tujuannya dengan orang-orang yang  sefaham dengannya. ” Tidak ada ikatan yang paling kuat  selain ikatan Aqidah dan tidak ada Aqidah yang paling kuat selain Islam,” demikian Imam Hasan al-Banna menyatakan.

 

*Islam Aqidah Menyeluruh*

 

Islam adalah dien para Rasul yang mencakup seluruh sisi kehidupan. Barangkali karakter dan tujuan Islam  dapat diungkapkan dalam dua kata: tawhid dan wihdah atau iman dan ishlah. Pengertian ini dapat kita tangkap dari sabda Rasulullah SAW ketika beliau ditanya  seorang Arab Badawi:

 

“Tunjukkan aku pada sesuatu didalam Islam yang aku tidak akan menanyakan didalamnya kepada siapapun setelah engkau.” Rasulullah SAW bersabda, “Katakan:  Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamalah”.

 

Islam yang hanif ini datang dengan membawa sistem sosial yang sempurna yang mengatur milik pribadi, kehidupan keluarga, hubungan kemasyarakatan, dasar-dasar  kenegaraan, faktor-faktor kesatuan dan politik dunia. Sistem tersebut melahirkan dasar-dasar kerohanian yang sangat bijak, di dalamnya menyatu nilai-nilai luhur dan kenyataan yang berhubungan erat dengan alam manusia, sehingga dari dasar-dasar teoritis ini beralih menjadi  amal harian rutin yang mudah tanpa ada rasa keterpaksaan dan keengganan. Allah berfirman:

 

“Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni’matNya bagimu supaya kamu bersyukur.” (QS. al-Ma’idah: 6)

 

Islam menegakkan Dawlah ideal yang kukuh dan kuat Dawlah Islamiyah ibarat satu bangunan yang  kukuh  tinggi yang tegak diatas fondasi yang kuat, empat tembok, atap dan pagar. Pondasinya ialah Ma’rifatullah dan Tawhid.

 

Temboknya yang empat terdiri atas:

 

*1. Ibadah*

Terutama shalat sebagai mi’raj seorang  Muslim  kepada Rabbnya dan merupakan tiang Islam pertama. Dengan shalat manusia dapat berhubungan dengan Rabbnya.Ia adalah perjalanan spiritual yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Ibadah adalah  tujuan  diciptakan manusia dan sebab eksistensinya. Firman Allah:

 

“Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar  mereka beribadat kepada-Ku” (QS. al-Dzariyat: 56).

 

*2. Ilmu*

Islam mendorong manusia supaya menuntut  dan mendalami ilmu pengetahuan. Atas dasar ilmu manusia  mendapatkan keutamaan dan keistimewaan. Allah berfirman:

 

“Allah meninggikan orang-orang beriman dari kamu seka lian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa  dera jat.” (QS. al-mujadalah: 11)

 

Dengan ilmu orang dapat meraih dunia dan akhirat sekaligus sebagaimana dikatakan Imam Syafi’i

 

“Barangsiapa menghendaki dunia,maka ia harus dengan Ilmu dan barangsiapa menghendaki akhirat, maka ia harus dengan ilmu. Dan barangsiapa menghendaki keduanya, maka ia harus dengan ilmu.”

 

*3. Ukhuwwah*

Ia adalah ikatan yang paling kuat yang mengikat seluruh kaum Mu’minin dan menjaga mereka dari keterpecahbelahan serta menyatukan hati mereka. Dengan ukhuwwah, kaum Mu’minin menjadi seperti bangunan yang tersusun rapih antara satu sama lainnya saling menguatkan. Firman Allah:

 

“Sesungguhnya orang-orang Mu’min itu bersaudara.” ( QS. al-Hujurat: 10)

 

*4. Tasyri’*

Tasyri’ adalah dasar-dasar yang harus diiltizami ummat dan diikuti manhajnya.Tasyri’lah yang memelihara eksistensi ummat dan menentukan arah serta meluruskan jalan nya. Firman Allah:

 

“Kemudian Kami jadikan kamu berada diatas satu syari’at dari urusan (dien) itu, maka ikutilah syariat  itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang  yang tidak mengetahui.” (QS. al-Jatsiyah: 18)

 

Atap yang menjadikan tembok yang empat ini  kukuh  adalah hukum (pemerintahan). Ia adalah kekuatan pelaksana dan pengarah. Di dalam sebuah atsar dikatakan:

 

“Sesungguhnya Allah memberi dengan  kekuasaan  apa-apa yang tidak diberikan dengan Qur’an.”

 

Dalam sebuah hadits dinyatakan: “Ikatan Islam akan terurai satu demi satu,  pertamanya dengan menetang hukum (pemerintahan) dan akhirnya (meninggalkan) shalat.”

 

Hasan Bishri berkata:

“Jika da’wah ini (kewajiban) bagiku, niscaya  ia (juga kewajiban) bagi penguasa. Sebab, Allah memperbaiki banyak akhlaq dengan perbaikannya.”

 

Sedangkan pagar yang melindungi bangunan Islam  adalah Jihad.Ia merupakan penjaga terpercaya yang dapat melindunginya. Firman Allah:

 

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang  itu salah satu yang kamu benci.” (QS. al-Baqarah: 216)

 

“Sesungguhnya orang-orang Mu’min itu ialah orang  yang beriman dengan Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan berjihad dengan harta dan jiwa mereka dijalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang  benar.” (QS. al-Hujurat:15)

 

Sehubungan dengan hal-hal tersebut imperialis dan  antek-anteknya berusaha keras meruntuhkan da’wah Islam.

          Mereka meruntuhkan Ibadah dengan cara  mendirikan dan menggalakkan perjudian, permainan dan kebejatan.

          Mereka mencoba meruntuhkan Ilmu dengan  cara  merusak sistem pendidikan dan pengajaran serta terlalu mementingkan kulit dan mengabaikan intinya.

          Mereka menghancurkan ukhuwwah dengan cara menumbuhkan partai-partai politik.

          Mereka memerangi hukum Islam dengan  cara  menerapkan undang-undang buatan manusia.

 

Pokoknya kaum imperialis itu memerangi  seluruh  aspek Islam sampai Islam hanya menjadi acara ritual dimasjid masjid dan dijadikan alat melegimitasi program-program penguasa. Para penguasa kaum Muslimin dewasa ini merendahkan Islam. Mereka menipu orang-orang awam dan melempar Islam dari kekuatan politik dan perundang-undangan

 

Bahkan ada diantara orang-orang yang  disebut  sebagai cendekiawan Muslim yang begitu bersemangat meruntuhkan beberapa aspek Islam, seperti dikatakan bahwa Islam tidak mempunyai konsep tentang  masalah- masalah  sosial dan lain semacamnya.

 

Begitulah, Islam diperangi dari dalam dari luar. Namun Islam, sebagai kekuatan al-Haq, akan menang sebagaimana pernah menang terhadap rongrongan Abu Jahal dan Ibnu Ubay.Islam akan menang menghadapi serbuan musuh dan tipu daya Munafiqin dari dalam. Islam akan kembali  sebagai sesuatu yang asing seperti ia pertama kali datang.

 

Berbahagialah orang-orang yang termasuk Ghuruba, sebagaimana diisyaratkan Rasulullah SAW dalam  haditsnya. Siapa Ghuruba termaksud? ialah  para  pejuang Aqidah disepanjang masa dan disetiap generasi.  Mereka adalah Haqiqat yang senantiasa diperangi para  pembela kesesatan dan Nur yang selalu dirongrong para  pembela kegelapan. Firman Allah:

 

“Mereka itulah orang-orang yang diberi  petunjuk  oleh  Allah, maka ikutilah petunjuk mereka”(QS.al-An’am:90)

 

*Karakteristik Pejuang Aqidah*

 

*1. Iman*

Iman adalah Aqidah yang tetap menguasai intuisi dan fikrah yang mantap, yang dapat  mengendalikan  aktivitas dan cita-cita serta mengarahkan perilaku manusia kepada tujuan hidupnya.

 

Iman kepada Allah merupakan sumber arus keutamaan  pribadi dan masyarakat. Dalam Islam ada iman terhadap tujuan dan iman terhadap kepemimpinan,sebagaimana tercermin dalam syi’ar besar Islam dan kalimah Tawhid.

 

Tawhid, dalam Islam, adalah sumber kemerdekaan pribadi dan masyarakat. Seseorang yang mengimani Allah  semata adalah yang memiliki kendali hidup,yang menyerahkan dirinya hanya kepada-Nya dan terbebas dari pengaruh syetan. Inilah hakikat kemerdekaan jiwa bagi seseorang. Ummat yang mengimani hakikat ini tidak akan tertundukkan oleh sang angkara murka manapun dan tidak dapat dilumpuhkan dengan besi dan api. Mengapa?  Karena ia memiliki kekuatan iman,laksana api yang dapat melelehkan besi atau air yang dapat memadamkan api. Inilah  hakikat kemerdekaan bagi suatu bangsa.

 

Pejuang Aqidah ialah orang yang merefleksikan  seluruh ma’na Syahadatain dan menyertakannya dalam setiap  gerak dan tingkah lakunya. Ia adalah orang yang  mengimani Rabbnya, percaya diri dan yakin akan kemenangan.

 

*2. I’tisham*

I’tisham ini salah satu sifat yang  dijadikan  sasaran serangan musuh-musuh Islam. Mereka berusaha merusaknya di dalam jiwa kita. Mereka mengecap  i’tisham  sebagai ta’ashshub. Sebagai kaum Muslimin ada yang jiwanya telah tertipu musuh-musuh Islam tersebut. Padahal, hakikat i’tisham ialah istimsak ( berpegang teguh ) kepada al-Haq, bulat hati dan percaya penuh kepadanya.  Allah berfirman:

 

“Maka berpegang teguhlah kamu kepada dien  yang  telah  diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada  diatas jalan yang benar.” (QS.al-Zukhruf: 43).

 

Perhatikanlah, bagaimana Allah menyerukan agar manusia berpegang teguh kepada al-Haq. Dan Allah memberikan isyarat halus bahwa berpegang teguh kepada al-Haq merupakan jalan ishlah (perbaikan) dan cara yang  ditempuh para Mushlih (pembangun) dan du’at. Firman Allah:

 

“Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan  al-Kitab  serta mendirikan shalat ( akan diberi pahala ) karena  sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan.”(QS. al-A’raf: 170)

 

I’tisham adalah i’tizaz ( kebanggaan ) terhadap al-Haq dan ta’asysyuq(gandrung) kepadanya melebihi kehormatan dan kedudukan dirinya. Firman Allah:

 

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang Mu’ min dari diri mereka sendiri.” (QS. al-Ahzab: 6)

 

Ungkapan paling indah dalam menggambarkan kegandrungan kepada al-Haq dan kekuatan berpegang teguh kepada da’wah adalah kata-kata Rasulullah SAW berkata:

 

“Demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari  di  tangan kananku dan bulan ditangan kiriku  supaya  aku meninggalkan da’wah ini,niscaya aku tidak akan mening galkannya.”

 

I’tisham mengandung ma’na al-Hubb (cinta) karena Allah dan al-Bughd (benci) karena Allah.Ummat tidak akan berjaya kalau tidak mengenal saudara-saudaranya, yang dengan mereka saling menjalin kasih sayang dan  menyatu. Demikian pula ummat tidak akan menang  tanpa  mengenal musuh-musuh tersebut ia bersikap tegas tanpa mudahanah dan riya’. Allah memperingatkan kaum Muslimin agar tidak condong kepada musuh-musuh Islam dan mengikuti kehendak dan tradisi mereka. Allah berfirman:

 

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Kitab,niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi kafir sesudah kamu beriman.”

 

“Bagaimana kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah  diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”  (QS. Ali Imran: 100-101).

 

Bagi suatu bangsa, tidak ada yang lebih parah selain dari ketidakperdulian bangsa tersebut terhadap faktor-faktor asasi dan eksistensi internasionalnya, baik  berupa bahasa, peranannya dalam pertemuan-pertemuan, perundang undangan atau tradisi.

 

*3. Al-Shidq*

Seorang pejuang Aqidah adalah manusia jujur dan mengiltizami kejujuran dalam setiap hal. Perasaan dan dhamir (nurani)nya jujur. Ia mampu menangkap ma’na al-Haq, alKhair dan al-Jamal serta menggandrunginya dengan lurus dan benar. Ia jujur dalam  kata-katanya, tidak  pernah berdusta. Jujur dalam jihad, tidak pernah khianat, berlaku kotor, membangkang dan tidak lari dari medan tempur. Di dalam sejarah Islam orang pertama masuk  Islam disebut al-Shiddiq, Abu Bakar al-Shiddiq. Sedangkan orang murtad dari Islam yang paling jahat  disebut  al-Kadzdzab, Musailamah al-Kadzdzab.

 

Arti keistiqamahan seorang pejuang Aqidah terhadap al-Haq dan al-Shidq tidak boleh ditafsiri sebagai  jumud, tidak tahu taktik dan strategi. Seorang pejuang Aqidah memandang sesuatu yang tidak terjangkau oleh akal  dan kecerdikan musuh-musuh dengan menggunakan kaca-mata bashirahnya. Dalam sebuah hadits disebutkan: “Mu’min itu bijak lagi cerdas.” “Hati-hatilah terhadap firasat seorang Mu’min,  karena ia memandang dengan Nur Allah.”

 

Sejarah membuktikan, al-Haq akhirnya selalu menang dalam setiap pertarungan dengan al-Bathil, meski pertarungan tersebut pada awalnya dimenangkan oleh  al-Bathil dan memakan waktu lama, penuh risiko dan derita. Allah berfirman:

 

“Allah telah menetapkan: “Aku dan Rasul-rasul-Ku pasti menang. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. al-Mujadalah: 21).

 

Al-Shidq merupakan pertanda kejerihan hati nurani  dan ketinggian cita-cita. Sedangkan alKidzb merupakan fenomena kedunguan, keputusasaan dan kekotoronan hati. Suatu jama’ah akan selamat dan teratur apabila seluruh anggotanya memelihara sifat shidq ini.

 

 

*4. Al-Quwwah*

Al-Quwwah adalah sifat yang harus dimiliki seorang  pejuang Aqidah. Dengan kekuatan da’wahnya dapat terlindungi dan bersama kekuatan, ia bergerak  dijalan  al-Haq dan al-Khair. Dengan kekuatan seorang  pejuang  Aqidah dapat mempertahankan diri dan membikin gentar musuh-musuhnya. Tetapi, kekuatan ini, oleh seorang pejuang Aqidah tidak akan digunakan untuk permusuhan dan  merusak

bumi. Dalam kaitan ini Allah berfirman:

 

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka  kekuatan  apa saja yang kamu sanggupi dari kuda yang ditambatkan untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang yang selain  mereka yang kamu tidak  mengetahuinya ;  sedang Allah mengetahuinya.” (QS. al-Anfal: 60)

 

Dengan kekuatan prima seorang pejuang Aqidah mengarungi lautan perjuangan dan menguak jalannya tanpa takut gentar dan ragu-ragu. Rasulullah SAW bersabda:

 

“Mu’min yang kuat lebih baik dari pada Mu’min yang lemah.”

 

Seorang pejuang Aqidah tidak akan mengenal arti lemah. Setiap cobaan dan tantangan akan  semakin  memperkukuh tekad, keimanan, kekuatan dan kepercayaan pada dirinya Allah berfirman:

 

“Yaitu orang-orang yang mentaati Allah  dan  Rasul-Nya  yang kepada mereka ada orang-orang  yang  mengatakan, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk  menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,”maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan  mereka menjawab, “Cukuplah Allah yang menjadi Penolong  kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.”(QS.Ali Imran 73)

 

Pejuang Aqidah adalah manusia yang kuat fisik dan mentalnya, yang tidak tergoyahkan oleh  berbagai  krisis. Ia kuat dengan kekuatan Allah, kaya  dengan  kekayaanNya, mampu dengan qudrat-Nya, dan besar dengan keagungan-Nya.

 

 

*5. Tadhhiyyah (Pengorbanan)*

Pejuang Aqidah menyadari bahwa jalan yang  ditempuhnya panjang, tujuan yang akan dicapainya jauh  dan  banyak rintangan yang harus diatasi. Karena itu ia melengkapi dirinya dengan sifat shabar yang mantap dan tekad yang kuat, serta ketahanan yang prima. Sehingga ia dapat mengatasi berbagai rintangan dengan tenang dan meyakinkan. Dengan demikian, seorang pejuang Aqidah harus  memiliki jiwa besar agar dalam menghadapi perjuangan yang beruntun tersebut selalu mantap dan teguh. Perjuang an menuntut jiwa pengorbanan, kesabaran dan penyerahan pendukungnya. Hal tersebut merupakan syarat kemenangan

 

Perjuangan Aqidah tidak ditaburi bunga, harta dan kesenangan. Malah jalannya penuh rintangan, tantangan,duri dan kerikil-kerikil tajam. Dalam kaitan ini Rasulullah SAW mengisyaratkan:

 

“Surga itu diiringi dengan makarih (sesuatu yang tidak  disukai) dan neraka itu diiringi dengan syahwat.”

 

Pejuang Aqidah tidak takut mati. Bahkan ia  mencita-citakan mati dalam memperjuangkan Aqidah. Ia tidak takut dibuang sebab pembuangan baginya merupakan tugas riset yang menyenangkan,seperti ia memandang penjara sebagai kesempatan untuk beri’tikaf dan bermunajat. Ibnu Taimiyyah:

 

“Bagiku penjara merupakan saat menyepi, pembuangan merupakan rekreasi dan kematian adalah syahadah.”

 

Imam Hasan al-Banna mengatakan, “Mati itu mempunyai tiga kedudukan, yaitu Mawtu al-Hayat, Mawtu al-Fana  dan Mawtu al-Baqa’. Mawtu al-Hayat ialah orang yang hidupnya seperti bangkai yang adanya seperti tiada. Ia hidup tanpa pemikiran, Aqidah dan burhan. Sedangkan yang  dimaksud dengan Mawtu al-Fana’ ialah orang yang mati seperti binatang atau tumbuh-tunbuhan. Ia mati tanpa  meninggalkan sesuatu yang berarti. Ia musnah dengan kemusnahannya. Mawtu al-Baqa’ ialah matinya seorang pejuang Aqidah. Kematiannya merupakan pembangkit semangat generasi dan jasanya tetap dikenang dalam sejarah. Sesungguhnya ia laki-laki al-Haq. Karena itu  selama  al-Haq masih hidup, ia tidak akan mati, dan tidak akan punah. Sebab,ia adalah da’i ila Allah,dan Allah itu langgeng.

 

*6. Al-Shabr dan Al-Tsabat*

Shabar adalah menahan diri atas sesuatu yang tidak disukai. Ia merupakan kemerdekaan jiwa dari segala macam pengaruh syahwat. Dengan keshabaran orang mampu mengatasi segala siksaan dan penderitaan. Allah berfirman:

 

“Hai orang-orang yang beriman, bershabarlah  kamu  dan kuatkanlah keshabaranmu dan tetaplah bersiap siaga.”  (QS. Ali Imran: 200)

 

Keshabaran merupakan warisan kepemimpinan manusia. Firman Allah:

 

“Dan Kami jadikan diantara mereka pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mere ka shabar.” (QS. Sajadah: 24)

 

Seorang pejuang Aqidah harus memiliki  keshabaran  dan ketetapan. Kesejatian seorang Mujahid terlihat pada saat terjadinya krisis dan kegoncangan. Ia tidak  merasa lemah dan sedih. Jiwanya selalu tegar dan tidak  kenal menyerah. Seorang Mu’min hakiki akan selalu tersenyum, baik pada senang, susah, menang ataupun pada saat terjadi goncangan. Imam Hasan al-Banna berkata,  ” Antara kemenangan dan kekalahan ada shabar sesaat.”

 

Keshabaran dan nafas panjang dua hal yang harus dimiliki para da’i. Rasulullah SAW selama 13 tahun di Makkah menyeru manusia supaya memeluk Dien Allah. Beliau dibalas dengan keingkaran dan tantangan yang mengakibatkan ia menerima berbagai siksaan dan penindasan.

 

Shabar itu ada dua macam:shabar kecil,yaitu shabar terhadap sesuatu yang tidak disukai dan shabar besar, yaitu shabar terhadap sesuatu yang dicintai.

 

Tetapi keshabarn ini tidak boleh disalah-artikan.Dalam masa kegelapan dan kelemahan ini orang sering mengartikan shabar sebagai menyerah terhadap  kezhaliman  yangmenimpanya, tidak mau melakukan tindakan pembelaan,meski hak-haknya dirampas dan harga dirinya diperkosa. Ini jelas bukan keshabaran yang dimaksud.Malah sikap seperti ini dicap oleh Allah sebagai zhalim linafsih (menganiaya diri) dan akan ditimpa kehinaan dan siksaan.

 

Firman Allah:

 

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan Malaikat  dalam keadaan menganiaya diri sendiri ( kepada mereka ) Malaikat bertanya, “Dalam keadaan bagaimana kami ini? Mereka menjawab, “Adalah kami orang-orang yang tertindas di bumi.” Para Malaikat berkata, ” Bukankah  bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?” Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam,  dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS> an – Nisa’: 97)

 

Allah, dalam al-Qur’an, memuji sekelompok manusia yang membela diri dari kezhaliman.Bahkan disebutnya sebagai ciri Mu’min. Firman Allah:

 

“Dan orang-orang yang jika mereka ditimpa kezhaliman,  mereka membela diri.” (QS. al-Syura: 39)

 

Keshabaran hakiki ialah yang tumbuh dari kemampuan dan kerelaan, bukan dari kelemahan dan keterpaksaan.

 

 

*7. Al-Ikhlash*

Ikhlash ialah menunjukkan niyat semata-mata tha’at  kepada Allah dan membersihkannya dari pandangan makhluq. Ikhlash merupakan sikap melupakan pandangan makhluq dengan cara selalu memandang kepada Khaliq. Ia merupakan ma’na kemerdekaan,ketinggian dan kebersihan dari nafsu kemanusiaan,kegelapan hawa nafsu dan ambisinya yang mengotori kehidupan.

 

Ikhlash merupakan rahasia antara hamba dan Rabbnya. Dalam hadits qudsi dinyatakan:

 

“Ikhlash itu rahasia dari rahasia-Ku  yang  diletakkan di hati hamba yang menyintai-Ku.”

 

Ikhlash ini mudah tertanam hanya pada orang-orang yang dirahmati Allah. Zahid, ketika ditanya tentang sesuatu yang paling sulit di dalam jiwa seseorang , menjawab ,”Yaitu ikhlash, karena tidak ada bagian nafsu di dalamnya.”

 

Karena itu, setiap prajurit Aqidah harus ikhlash beramal semata-mata karena Allah,dan selalu mengontrol nafsu dan pintu-pintu syetan yang sangat halus.Rasulullah SAW bersabda:

 

“Takutlah kepada syirik ini (tidak ikhlash) karena  ia lebih halus dari pada bulu seekor semut.”

 

Ketika Rasulullah SAW ditanya bagaimana cara membersihkannya, ia menjawab, “Berdo’alah kepada Allah  seperti do’a ini:

 

“Ya Allah sesungguhnya kami berlindung dengan-Mu  dari kami menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui,  dan kami mohon ampun kepada-Mu terhadap apa-apa  yang tidak kami ketahui.”

 

Pejuang Aqidah adalah prajurit tak terkenal yang tidak ambisius.Ambisinya hanyalah agar amalnya diterima oleh Allah SWT. Pembela Aqidah dapat  meningkat  derajatnya dengan memurnikan arah perjuangannya hanya kepada Allah dan menumpukan kepada keridhaan-Nya, tanpa keinginan dipandang manusia. Rasulullah SAW bersabda:

 

“Sesungguhnya Allah menyintai  orang-orang yang  taqwa dan tidak menonjol. Yaitu orang yang bila hadir tidak populer dan bila tidak ada tidak dicari-cari.”

 

Karena itu Umar RA tidak henti-hentinya menanyakan kepada Khudzaifah al-Yamani Ra,”Apakah engkau lihat didalam diriku sebagian sifat nifaq?”

 

Seluruh pasir dilautan tidak  dapat  memadamkan  murka Allah. Tetapi air mata seorang Mukhlish,dikala sendiri nan sepi, dapat memadamkannya.Maka seorang pejuang Aqidah di saat-saat tertentu,ia memanjatkan munajatnya kepada Rabbnya seraya menangisi kesalahan-kesalahannya .Ia terus menerus melakukan muhasabah terhadap dirinya.

 

*8. Tajarrud*

Dua mata pedang tidak mungkin berada dalam satu sarung Dua hati tidak mungkin berada dalam satu jiwa. Demikian pula,seorang pejuang Aqidah harus memurnikan Aqidah nya dari segala macam bentuk kesyirikan. Maka ia tidak mensyarikatkan Aqidahnya dengan Aqidah  lain.  Seorang pejuang Aqidah menjadikan seluruh hatinya sebagai khazanah (gudang) da’wahnya. Bersama Aqidah ia hidup.Seluruh qalbu dan akalnya terisi oleh Aqidah.

 

Benarlah apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAW kepada Bani Syaiban ketika Bani Syaiban berjanji kepadanya untuk melakukan pertolongan terbatas.Rasulullah bersabda

 

“Sesungguhnya Dien ini tidak dapat dibela kecuali oleh orang yang mau membelanya dari segala segi.”

 

Ada anak bertanya pada bapaknya,seorang Sufi,”Wahai bapakku apakah engkau menyintai Allah?”Bapaknya menjawab “Ya.” Anaknya bertanya lagi,”Apakah bapak mencintaiku?” Jawabnya, “Ya wahai anakku.” Lalu sang anak menanyakan lagi,”Mungkinkah satu hati dapat menghimpun dua cinta?”

 

Dari pertanyaan anak tersebut jelas  menunjukkan bahwa ia menghendaki orang seperti ayahnya semestinya memiliki hati yang hanya dipenuhi Hubbullah, tidak usah memikirkan yang selain-Nya.

 

PENUTUP

Sepanjang sejarah dunia Mujahid pembela Aqidah tidak banyak. Tetapi tidak banyaknya mereka tidak menghalangi untuk mencapai kemenangan mereka banyak ditentukan oleh bantuan kekuatan samawi dan dukungan Allah SWT. Firman Allah:

 

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan idzin Allah.Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang shabar.”  (QS. al-Baqarah: 249)

 

Para pejuang Aqidah dan Haq akan tetap teguh meski orang-orang yang disekelilingnya dilanda kegoncangan. Keteguhan mereka inilah yang dapat menenteramkan goncangan dunia.Mereka tak memperdulikan amarah dan cemoohan  manusia. Sebab, mereka yakin kepada Rabb mereka, percaya akan pertolongan-Nya dan mereka melihat kerasnya ujian sebagai isyarat kemenangan. Mereka berjalan dijalan yang penuh batu dan duri.Mereka bangga karena al-Haq itu agung dan berharga. Perjalanan Aqidah dan haq ini hanya dilalui oleh orang-orang berhati pahlawan yang tangguh, yaitu orang-orang yang antara hati dan da’watu  al-Haq ada keterjalinan yang erat.

 

Mereka adalah peristiwa-peristiwa terbesar karena mereka memiliki kekuatan dan ketangguhan  dari  Allah  SWT dan mereka selalu bergembira dengan  da’wahnya.  Allah berfirman:

 

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak  ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula)  mereka bersedih hati.” (QS. Yunus: 62)

 

Ali bin Abi Thalib menyifati mereka ini dengan kata-katanya:

 

“Mereka bergembira terhadap ruh yaqin,merasa mudah terhadap kesulitan para mutraf, berlaku lemah lembut terhadap apa yang diperlakukan keras oleh para jahil dan  menggantungkan ruh mereka ketempat yang tinggi.”

 

Para pejuang Aqidah hidup, bukan dihidupi dunia. Mereka memakan sebagian dunia bukan dimakan dunia. Mereka memandang dunia apa adanya. Bashirahnya selalu mengintip apa-apa yang ada dibalik dunia, yaitu keabadian.

 

“Mereka itu adalah Hizbullah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Hizbullah, merekalah yang menang.” (QS. al- Mu  jaadalah: 32 )

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: