Memaknai perjalanan hidup Muhammad SAW

 

“Sesungguhnya telah ada bagimu pada diri Rasulullah teladan yang baik bagi orang yang berharap berjumpa de-ngan Allah dan Hari Akhir dan banyak mengingat Allah.” (QS. 33:21)

 

 

 

Sejak kelahirannya ke dunia ini, Muhammad SAW elalu menjadi bahan pujian setiap orang yang mengenalnya. Terutama kakeknya Abdul Muthalib yang menanti kelahiran seorang anak lelaki yang akan menjadi penerusnya kelak sebagai pemelihara Ka’bah yang disucikan.
Pada hari ketujuh kelahirannya itu, Abdul Muthalib minta disembelihkan seekor unta, lalu  mengundang  masyarakat  Quraisy  dan mengumumkan pemberian nama cucunya dengan nama Muhammad kemudian berkata: “Kuingatkan, dia akan menjadi orang yang terpuji bagi Tuhan di langit dan bagi makhluknya di bumi.”
Keluhuran sifatnya sempat diabadikan dalam beberapa sya’ir pujian seperti “Barjanzi,” “Qashidah Burdah” serta berbagai bacaan Shalawat yang mengangkat namanya.

 

Rasulullah SAW dan para Rasul lainnya memiliki tugas mulia, diantaranya;

  • Menyeru manusia menyembah hanya kepada Allah SWT semata.
  • Menyampaikan perintah dan larangan Allah kepada manusia.
  • Menunjukan dan membimbing manusia kepada jalan yang benar dan lurus .
  • Sebagai teladan dan contoh yang baik bagi manusia.
  • Memperingatkan manusia tentang kehidupan sesudah mati dan masalah ghaib yang akan dihadapi setelah mati.
  • Menyeru manusia mengutamakan kehidupan akhirat yang abadi daripada kehidupan dunia yang sementara.
  • Agar manusia tidak membuat alasan mengapa Allah menghisab mereka. [8]

Pada bulan Rabi’ul Awal tercatat beberapa peristiwa bersejarah yang berkaitan dengan kelangsungan hidup dan berkembangnya agama Islam di muka bumi ini. Tiga peristiwa penting yang menentukan eksistensi Islam sebagai agama langit untuk seluruh manusia, yaitu:

 

Pertama: peristiwa lahirnya Muhammad sebagai calon Nabi dan Rasul, tepatnya tanggal 12 Rabi’ul Awal tahun Gajah (20 April 571 M).

Kedua, adalah hijrahnya Rasulullah SAW dari Makah ke Madinah yang pada waktu itu dikenal de-ngan nama Yatsrib.

Ketiga, wafatnya Rasulullah SAW tepatnya pada tanggal 12 Rabi’ul Awal 11 Hij-riah (8 Juni 632 M).

 

Peristiwa kelahiran Muhammad SAW terjadi di tengah bergolaknya masyarakat Jazirah Arab terkait penyerbuan pasukan gajah dibawah komando Abrahah untuk menghancurkan Ka’bah yang saat itu menjadi pusat perhatian dunia. Karena keistimewaan inilah Abrahah ingin menghancurkan dan mengambil alih kekuasaan dengan membuat gereja Ayya Shafiya sebagai pengganti Ka’bah. Namun Allah SWT tidak menghendaki dan kemudian kisah ini diabadikan dalam QS. Al-Fiil: 1-5.

 

Kelahiran inilah yang melatarbelakangi adanya Mauludan, yang semula diselenggarakan untuk meningkatkan semangat jihad pasukan yang sudah mulai menurun yaitu dengan mengkaji ulang perjuangan Rasulullah SAW semasa hidupnya yang penuh dengan cobaan. Namun kenyataan sekarang maulidan bermakna lain sehingga Syekh Abdul Aziz Ibn Abdillah Bin Baaz, ketua Organisasi Riset Ilmiah dan Majlis Fatwa Makah Al-Mukarramah memandang bid’ah yang haram dilaksanakan.

 

 

Terlepas dari Khilafiah di atas, yang penting bagi kita ialah memetik hikmah dibalik kelahiran seorang Nabi yang amat kita junjung, yang memiliki sifat mulia lagi terpuji, agar kita merenungi setiap perilaku serta akhlaqnya untuk dijadikan teladan hidup dan anutan bagi kita yang mencintainya. Sungguh banyak perilaku Rasulullah SAW yang belum kita contoh.

 

 

Peristiwa kedua adalah Hijrah Rasulullah SAW dari Mekah ke Medinah. Jika kita menghayati kisah perjalanan hijrah ini, maka hal ini sungguh menggugah hati kita, betapa Rasulullah SAW dan para shahabat memiliki ketabahan dan semangat jihad yang tangguh. Hijrah merupakan momentum yang menentukan kelangsungan Islam di jazirah Arab. Karena, setelah tiga belas tahun beliau menda’wahkan Islam di Makah, para pembesar kaum Quraisy semakin menekan kaum muslimin yang lemah dengan penyiksaan fisik yang tidak berperikemanusiaan, seperti terjadi pada keluarga Ammar Ibn Yassir.

 

Kisah penyiksaannya diungkapkan Sabir Abduh Ibrahim; “Pada pagi hari berikutnya datang kepada kami Abu Hudzaifah (majikan Ammar). Ia mengikat kaki dan tangan kami hingga datang waktu Dzuhur. Dengan tanpa belas, dia seret kami ke tengah padang pasir yang panas sampai kulit kami hangus terbakar… Kemudian datang Abu Jahal membawa tombak. Dengan tombak terangkat ia mengancam agar kami meninggalkan Islam. Namun setelah lama ia menunggu, diarahkannya tombak itu pada ibuku (Sumayyah), lalu ditusukkannya ke arah auratnya dengan sekuat tenaga akhirnya iapun syahid…”

 

Inilah salah satu alasan mengapa hijrah mesti dilaksanakan disamping sebagai perintah Allah SWT. Sulit dibayangkan, ketabahan para shahabat melaksanakan hijrah ini. Walaupun jarak antara Makah dan Madinah begitu jauh (lk. empat belas hari dengan berjalan kaki) dan keadaan cuaca teramat gersang. Namun dengan dorongan iman dan kesetiaan pada Rasulullah SAW mereka rela meninggalkan harta dan segala kenangan di Makah Al-Mukarramah.

 

Demikianlah sikap generasi shahabat yang telah mencapai kenikmatan iman sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Tiga Perkara yang merupakan puncak nikmatnya iman yaitu; Pertama, orang yang mencintai kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi cintanya kepada orang lain. Kedua, orang yang mencintai sesamanya karena Allah semata. Dan Ketiga, orang yang benci kembali kepada kekafiran seperti merasa takut dilemparkan ke dalam neraka.”.

 

Setelah Rasulullah SAW dan para shahabatnya me-ngalami perjalanan yang cukup panjang, mereka tiba di Madinah de-ngan sambutan hangat dari penduduk setempat. Maka dikenallah golongan ummat Islam saat itu Muhajirin (mereka yang hijrah) dan golongan Anshar (mereka yang menolong).

 

Tepat pada hari Jum’at tanggal 12 Rabiul Awwal tahun Pertama Hijriah (24 September 622 M), Rasulullah SAW sampai di Madinah dan mulai saat itulah Rasulullah SAW membangun kekuatan Islam bersama para shahabatnya selama sepuluh tahun di Madinah.

 

 

Peristiwa ketiga adalah wafatnya Muhammad SAW. Peristiwa kewafatannya sungguh amat mengharukan setelah beliau sakit selama 18 hari pada akhir Bulan Shafar. Kepergiannya memberikan kenangan tersendiri bagi para shahabat, seperti yang diki-sahkan oleh Ibnu Mas’ud RA: “Ketika telah dekat hari kewafatannya, kami (para shahabat) berkumpul di rumah Aisyah RA, Rasulullah SAW menoleh dan memandang wajah kami satu persatu, Kedua matanya berbinar menahan tangis, kemudian beliau bersabda; “Selamat datang, semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya bagi kalian semua, aku berwashiat kepadamu, bertawakkallah kepada-Nya, sungguh telah dekat perpisahan ini. Hendaklah Ali RA memandikanku, Al-Fadlal Ibnu Abbas RA dan Utsman Bin Zaid RA yang menuangkan airnya, dan kafanilah aku dengan kainku atau kain putih buatan Yaman, jika telah selesai letakkanlah di rumahku di atas pinggir lubang kuburku, kemudian bawalah keluar sebentar karena Allah SWT sendiri yang pertama kali memberi shalawat atasku kemudian Jibril, Mikail, Israfil, Izrail dan para malaikat, barulah kamu shalatkan aku.”

Setelah kami mendengar washiatnya, tak kuasa kami menahan tangis. Seorang shahabat berkata: “Ya Rasulallah, engkau Rasul kami, pembina dan pemimpin kami, apabila engkau mati, kepada siapa lagi kami mengadu ?” Maka Rasul-pun menjawab; “Aku tinggalkan kamu di atas jalan terang dan aku tinggalkan kamu penasehat yang berbicara dan yang diam. Penasehat yang berbicara adalah Al-Quran dan yang diam adalah maut. Apabila kamu menghadapi persoalan berat, maka kembalilah kepada Al-Quran dan Sunnah Nabawiah, dan apabila hatimu gelisah, maka tuntunlah dia dengan mengambil i’tibar dari peristiwa kematian !”

 

Demikianlah tiga peristiwa besar bulan Rabiul Awal sebagai kenangan dan pelajaran bagi ummat Islam dewasa ini dengan mamahami makna dan hikmah di balik peristiwa-peristiwa tadi. Sudah saatnya kita memperingati ketiga peristiwa itu dalam arti yang sesungguhnya, yaitu menjalankan nasehatnya yang agung dan selalu berpegang teguh kepada Al-Quran dan Sunnah Nabawiah serta menjadikan teladan hidup baik dalam ibadah maupun dalam perilaku sehari-hari.

 

ALLAHUMMA SHALLI ‘ALA MUHAMMAD WA ‘ALA ALI MUHAMMAD KAMA SHALLAITA ‘ALA AALI IBRAHIM WA BAARIK ‘ALA MUHAMMAD WA ‘ALA ALI MUHAMMAD KAMAA BARAKTA ‘ALA AALI IBRAHIM, AMIEN.

 

(Ya Allah, curahkanlah rahmat atas Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau curahkan rahmat kepada keluarga Ibrahim, dan berikanlah berkah keselamatan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berikan berkah keselamatan kepada keluarga Ibrahim, Amien).

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: