Allah Tertawa di Kilometer 377: Catatan Kecil Selepas Touring

“Saya malu, Wan,” bisik Pak Eki pada saya. “Bikin merinding,” komentar Mas Waris.

 

The Power of Brotherhood

Ada seseorang yang mendatangi Rasulullah (dalam keadaan lapar), lalu Rasul mengirim utusan kepada istri-istri beliau. Istri Rasul menjawab, “Kami tidak memiliki apapun kecuali air.” Rasulullah bertanya kepada para sahabat, “Siapakah di antara kalian yang ingin menjamu orang ini?” Salah seorang kaum Anshor berseru, “Saya.” Lalu orang Anshor ini membawa lelaki tadi ke rumah istrinya, (dan) ia berkata, “Muliakanlah tamu Rasulullah.” Istrinya menjawab, “Kami tidak memiliki apapun kecuali jatah makanan untuk anak-anak.” Orang Anshor itu berkata, “Siapkanlah makananmu itu, matikan lampu, dan tidurkanlah anak-anak kalau mereka minta makan malam.” Kemudian, wanita itu pun menyiapkan makanan, mematikan lampu, dan menidurkan anak-anaknya. Lalu kedua suami istri ini menemani tamunya makan seakan mereka sedang makan bersama. Setelah itu suami istri itu tidur dalam keadaan lapar. Keesokan harinya sang suami datang menghadap Rasulullah. Beliau bersabda, “Malam ini Allah tertawa karena takjub dengan perilaku kalian berdua.” (H.R Bukhari).

 

Kelelahan yang berkombinasi dengan kurang tidur ternyata menghasilkan rasa lapar yang hebat. Maka, tanpa basa basi kami menyantap habis hidangan makan pagi di Pelabuhan Ratu. Terlebih Pak Deni, Kang Dadi, beserta seluruh rombongan Jakarta Bogor melayani kami habis-habisan. Sagala diasongkeun!

Tak terpikirkan sedikit pun kalau mereka sendiri belum menyentuh makanan sama sekali. Kami pikir mereka sudah makan duluan. Kami baru ngeh ketika mereka mengambil makanan setelah beres melayani kami. Padahal, lauk pauknya nyaris kami habiskan sendiri.

Saudara kami dari Jakarta Bogor telah mempertontonkan pertunjukkan itsar dengan sangat anggun. Itsar adalah level ukhuwah tertinggi, yakni saat seseorang lebih mengutamakan kepentingan saudaranya daripada kepentingannya sendiri.

Dan, kemegahan itsar pun tersaji indah di pelupuk mata kami, seakan mengulang kejadian serupa berabad-abad lalu di bumi Madinah. Maka, Allah pun kembali tertawa di sini … di kilometer 377.

 

وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلْإِيمَٰنَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِى صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ أُوتُوا۟ وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِۦ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ ﴿٩﴾

 

Dan orang-orang (Anshor) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri sekalipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS Al Hasyr 9).

Semoga keberkahan dan rahmat Allah senantiasa tercurah untuk saudara-saudara kami dari Jakarta Bogor.

Catatan Pak Eki:

Bandung-Bogor +/-  278 km.

Bogor-Pel. Ratu +/- 99 km.

Bandung-Pel. Ratu 377 km.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: